Jumat, 04 April 2014

hasrat dan hujan

aku tahu apa yang kumau, lalu ia jatuh.
aku mesti berteduh, berjalan cepat ke tepi jalan, mendekati bangunan.
kau tahu apa yang tidak kaumau, aku menggigil dipeluk angin.
takdir mencibir ke arah langit.
ia melihatku, pasrah, atau menantinya lelah lalu menyerah.
kuulurkan sebelah tangan, menyentuhnya, kubiarkan lengan bajuku basah.
aku tidak tahu apa yang kumau, menutup telinga dengan tangan basah atau mendengarkan guntur setelah kilatnya mengirimkan isyarat.
langit membentak takdir. sesaat ia terlihat terang, berjatuhan.
telingaku basah, sejuk menjalari seisi kepalaku.
aku mau sepertinya, jatuh, lalu jatuh.
ia tahu, tidak berteduh di bawah reruntuhan.
takdir terseret angin.
ia melihatku lelah lalu menyerah padanya*

*

mau lari ke mana lagi. semua lorong sudah sembunyi. aku bengong, ini dia sebuah celah. aku leleh. masa iya semua tulang mudah lumer. berapa derajat suhunya. berapa derajat sudutnya. untuk mengubah tubuh jadi abu. orang orang tersayang, cuma yang tersayang yang membakarmu. aku jelas mati. sebelum dijilati api. agar tak jadi daging panggang kematangan, apinya mesti menyala hebat juga lama. mati itu tidak mencintai, tapi dicintai. oh, betapa adilnya api. aku tidak lihat api berjingkrak jingkrak mendapatkan teman untuk dimakan. kau bebas, boleh tidak berlari. aku bersin di dalam mimpi, di dalam peti, melihat kau diam, mengusap hidungmu. saputanganku juga sembunyi di dalam kantong celana. memeluk setengah batang coklat yang membasahi paha. mimpi indah, laut mati, kau api, aku lorong tersembunyi. berapa anjing mendengking, nyaring menjaring keheningan yang sedang belajar berenang*

Kamis, 03 April 2014

aglutinasi

kaupilih satu atau seribu matahari.
apakah namanya tetap pagi.

kaupilih dulu, satu atau seribu matahari.
katakan dulu, apakah namanya tetap pagi*

gali gali



Rumah rumah, kau tidak bertanya. Pada yang keluar masuk membawa sekantong roti dan manisan buah asam. Lalu lalu tubuhku menegakkan punggung, berjalan melewati ambang pintu. Selimut perca di atas sofa. Topi baja di ambang jendela.
Sebotol anggur uzur tak menyadari dirinya pikun. Pemilik rumah mengenakan mantel rajutan. Sewarna sarang laba laba saat baru dibelai sinar lampu, malu malu.
Duduklah, duduklah, kata segelas anggur, jelas sebatang kara tidak membuatnya bersemi, tidak menumbuhkan tunas, tak juga bunga bunga.  Sebuah jambangan bergetar nyaris pecah. Tanpa pernah dapat membalas mnggebrak meja.
Oh, ada meja, menopang semua yang bernasib sama. Diletakkan, mungkin sebelum dilupakan atau disingkirkan surat surat penting. Siapa yang begitu tabah, bersedia membaca pesan yang tersesat di kebuntuan sebuah gang*

selembar cermin di mata air

aku dapat menjadi ember atau gayung. gelas atau baskom. mengisi semua yang kosong. memenuhi yang terisi. jatuh atau mengalir, menyusup atau menerjang. luas atau sempit, dangkal atau dalam, deras atau menetas pelan. kurasa tak ada yang serba bisa macam aku di seluruh alam semesta.
kau tidak serba bisa. kau hanya tak punya pilihan untuk tidak menjadi apa adanya.
tak ada kehidupan bila aku tak ada.
kau juga tak ada bila tak ada kehidupan.
ah, itu hanya membalik susunan kata. akal akalan licik dari sekeping wajah tak berdaya.
hahaha. terserah. kau boleh merasa serba bisa selamanya. memang begitu. kau satu satunya yang tak sanggup menghentikan segala yang telah ada dari semula.
sempurna. dari semula mestinya segalanya sempurna. seperti aku. tak menahan diri, tak menjadikan diriku sia sia dengan berdiam diri.
tepat sekali. kau tak pernah dapat berhenti. rapuh, selalu gelisah, menyergap, menyeret, menenggelamkan, meninggalkan, menyingkirkan, mengacuhkan apa saja. kau hanya tahu cara peduli kepada dirimu sendiri. terburu buru datang dan pergi, dari waktu ke waktu, dari satu tempat rendah ke tempat lebih rendah lainnya. tak dapat sejenak saja bertahan di ketinggian. sebuah ceruk kecil saja cukup membuatmu menjadi sebuah genangan yang cuma bisa diam menanti udara dan cahaya menjadikanmu tiada. kau tak mampu membebaskan dirimu, tak bisa berkelit dari cengkeraman hukum alam.
gemuruh sekali bicaramu, tak dapat kudengar kata katamu. kau basah kuyup, hampir hanyut atau hancur.. keringkan dulu tubuhmu, tenangkan dirimu. katakan apa saja yang ingin kaukatakan padaku sekali lagi, agar aku paham. meskipun tak layak, akan kudengar agar kau senang. bagaimanapun kita teman seperjalanan.
jangan pura pura tuli atau tidak mengerti.
oh, aku sungguh sungguh peduli. kau payah sekali. tajam namun tak berdaya. kau bikin aku iba.
jangan pura pura baik.
kau tak percaya atau buta, ini aku apa adanya.
kau pura pura atau sungguh sungguh payah. aku menyerah. lihat saja dirimu dari mataku, bahkab sekujur tubuhku. dapat kaulihat dirimu apa adanya, menikmati apa saja yang ada padamu sepuasnya. kerjakan saja hingga aku pecah. jangan heran bila ternyata semua yang kaulihat sirna saat aku telah tiada*

*



Segumpal awan tidak dapat melihat, hanya dapat dilihat. Segumpal awan bisa saja tidak mengetahui segalanya. Kecuali sesuatu yang tidak berarti, tidak mengubah apa apa, sedang berserakan di mana mana, serupa ludah. Kadang kadang tidak kelihatan, kadang kadang cemerlang. Dan sebuah hutan sedang kelaparan*

*



Kelak, jalan jalan akan mengerumuni panggung boneka. Semua jalan, tidak diam.  Bersemangat memetik sayur, menyusun sisik ikan di atas banggkai kapal. Nanti, pada waktu kaubuka buku, setelah menuntut semua jendela menunjukkan dunia, dan pintu pintu memakai baju. Pacarku mencuci tangan setelah makan lantas berdoa, sebelum mengunyah angin nakal yang kelelahan membolak balik halaman. Kubasuh wajah, hati hati, menyisakan sebutir tahi lalat. Coklat dan bundar serupa kue dolar.
Sepasang ikan tidur pulas beralas piringan hitam. Bach, betinanya mengigau mesra. Sirip jantannya bergetar, ekornya berkecipak riang. kucing muda membelalak matanya, kaki depannya maju mundur, naik turun mirip sebatang rumput yang patuh. Hingga meletus balon merah jambu. Menjatuhkan gula gula dan lagu lagu.
Rambutmu merdu, kataku manis untuk pacarku. Tahu tahu bumi bumi runtuh*