Sabtu, 08 Desember 2012
Rabu, 05 Desember 2012
lagu
Pada sebuah pertemuan di bawah keteduhan, entah pohon apa, sama sekali tak sempat kuperhatikan. Kau mengulurkan sesuatu padaku. Hadiah untukku pada hari ulang tahunmu.
"Terbalik," Kataku.
"Bagus,"Katamu."Bukalah."
Kubuka hadiahmu. Jam pasir. Aku bertanya dengan mataku.
"Itu waktu. Bisa kaubalikkan sesukamu."
Kutangadahkan kepala, menatap garis garis cahaya menyusupi reranting dan dedaunan. Sebuah pohon paling teduh yang tak kutahu namanya. Beberapa ekor burung bersarang pada dahannya, berlompatan riang, sesekali berkicau tentang hujan atau bulan yang selalu kausiulkan*
"Terbalik," Kataku.
"Bagus,"Katamu."Bukalah."
Kubuka hadiahmu. Jam pasir. Aku bertanya dengan mataku.
"Itu waktu. Bisa kaubalikkan sesukamu."
Kutangadahkan kepala, menatap garis garis cahaya menyusupi reranting dan dedaunan. Sebuah pohon paling teduh yang tak kutahu namanya. Beberapa ekor burung bersarang pada dahannya, berlompatan riang, sesekali berkicau tentang hujan atau bulan yang selalu kausiulkan*
kekasih biasa
Seolah olah penghuni dunia sedang berduyun duyun ke satu arah. Tapi aku kekasih biasa, yang sewajarnya menyukai sudut sudut asing, sepi dan tersembunyi. Untuk menemui kekasih yang biasanya menunggu di sana. Di tempat yang tak ingin disinggahi kebanyakan penghuni dunia.
Tak ada salahnya menjadi kekasih biasa, atau itu hanya penghiburan bagi seorang pembuang sampah. Seorang pemuda yang setiap pagi berjalan dari rumah ke rumah, berhenti di tiap pintu, berjalan masuk ke halaman rumah, mengambil setumpuk benda buangan untuk dituangkan ke dalam gerobaknya.
Mungkin ia juga punya seorang kekasih biasa yang menyukai sudut sudut asing, sepi dan tersembunyi untuk saling berjumpa. Kekasih biasa yang sama sekali tak pernah menginginkan apapun selain sesaat kebersamaan. Mungkin hambar, bisa pula bersinar.
Setiap kekasih biasa bisa murung atau bahagia, yang sedikitpun tak ada hubungannya dengan makna hidup kekasihnya.
Banyak penghuni dunia berkata,"Jadikan dirimu berguna bagi masyarakat, keluarga, bangsa dan negara."
Tapi kudengar aku berkata,"Jadilah kekasih biasa bagi kekasihku." Untuk melupakan siapa saja yang kutemui kemarin, hari ini atau besok pagi.
Seorang anak bangga karena memiliki gambar walikota yang tak kukenal namanya. Seorang anak masih terlalu muda usia untuk jatuh cinta dan memahami bahwa tak ada yang lain patut disyukuri selain memandang wajah kekasih.
Seorang pembuang sampah adalah kekasih biasa, hanya saja bau busuk kerap kali mengeruhkan rongga kepala dan dadanya.
Di tempat asing, sepi dan tersembunyi, kusentuh segenap dunia beserta penghuninya pada genggam tangan kekasihku*
Tak ada salahnya menjadi kekasih biasa, atau itu hanya penghiburan bagi seorang pembuang sampah. Seorang pemuda yang setiap pagi berjalan dari rumah ke rumah, berhenti di tiap pintu, berjalan masuk ke halaman rumah, mengambil setumpuk benda buangan untuk dituangkan ke dalam gerobaknya.
Mungkin ia juga punya seorang kekasih biasa yang menyukai sudut sudut asing, sepi dan tersembunyi untuk saling berjumpa. Kekasih biasa yang sama sekali tak pernah menginginkan apapun selain sesaat kebersamaan. Mungkin hambar, bisa pula bersinar.
Setiap kekasih biasa bisa murung atau bahagia, yang sedikitpun tak ada hubungannya dengan makna hidup kekasihnya.
Banyak penghuni dunia berkata,"Jadikan dirimu berguna bagi masyarakat, keluarga, bangsa dan negara."
Tapi kudengar aku berkata,"Jadilah kekasih biasa bagi kekasihku." Untuk melupakan siapa saja yang kutemui kemarin, hari ini atau besok pagi.
Seorang anak bangga karena memiliki gambar walikota yang tak kukenal namanya. Seorang anak masih terlalu muda usia untuk jatuh cinta dan memahami bahwa tak ada yang lain patut disyukuri selain memandang wajah kekasih.
Seorang pembuang sampah adalah kekasih biasa, hanya saja bau busuk kerap kali mengeruhkan rongga kepala dan dadanya.
Di tempat asing, sepi dan tersembunyi, kusentuh segenap dunia beserta penghuninya pada genggam tangan kekasihku*
Senin, 03 Desember 2012
aku,
Bintang yang jatuh di dekat mata kakimu.
Pecah memeluk tanah. Kau melangkah, membawaku
pada telapak kakimu, kalau kau sedang tak pakai sepatu.
Jalan jalanmu bercahaya, terasa manis.
Pejamkan mata, kubisikkan beberapa kata yang tak kaudengar dan
akan segera kaulupakan*
Pecah memeluk tanah. Kau melangkah, membawaku
pada telapak kakimu, kalau kau sedang tak pakai sepatu.
Jalan jalanmu bercahaya, terasa manis.
Pejamkan mata, kubisikkan beberapa kata yang tak kaudengar dan
akan segera kaulupakan*
kuda kayu
Kuda kudaan kayu berbaris di trotoar. Seperti memandang jalanan dan semua yang lalu lalang. Kuda kudaan kayu tidak sendirian, tidak kesepian, tidak mengharapkan seorang anak mencoba menungganginya lalu merengek kepada orang dewasa di dekatnya, memohon agar kuda kudaan kayu boleh dibawa pulang.
Dari pagi hingga malam kuda kudaan kayu mengacuhkan segala sesuatu. Juga aku.
Yang menatapnya setiap ada waktu, berharap dalam diam, suatu saat kuda kudaan kayu akan menyenangkan seorang anak yang kebetulan lewat dekat trotoar di mana kuda kudaan katu berdiri tegar.
Tak ada yang butuh percakapan untuk menggambar sebuah lingkaran sempurna.
Kurasa aku perlu berterima kasih kepada ibuku karena ia tak pernah menemuiku untuk menuruti rengekan masa kecilku untuk menunggangi kuda kudaan kayu. Sebuah foto tua menunjukkan padaku seorang anak perempuan tersenyum di punggung salah satu kuda kudaan kayu paling bagus, badannya terbungkus semacam kulit coklat berbulu lembut, pelana dan tali kekang berhias manik manik dan irisan kaca, bundar dan bersinar.
Gambar gambar selalu mempertemukan siapapun yang sedang saling merindukan.
Dunia yang luas sekaligus sedarhana.
Kuda kudaan kayu tak perlu nama, atau mengingat wajah wajah kecil yang pernah menyentuhnya.
Maka aku kembali tersenyum tanpa sebab, atau karena aku sudah malas mengatakan bahwa hidup berayun ayun lembut di tangan waktu. Dan aku kembali mengingat ibu yang tak pernah membuatkan kenangan untukku*
Dari pagi hingga malam kuda kudaan kayu mengacuhkan segala sesuatu. Juga aku.
Yang menatapnya setiap ada waktu, berharap dalam diam, suatu saat kuda kudaan kayu akan menyenangkan seorang anak yang kebetulan lewat dekat trotoar di mana kuda kudaan katu berdiri tegar.
Tak ada yang butuh percakapan untuk menggambar sebuah lingkaran sempurna.
Kurasa aku perlu berterima kasih kepada ibuku karena ia tak pernah menemuiku untuk menuruti rengekan masa kecilku untuk menunggangi kuda kudaan kayu. Sebuah foto tua menunjukkan padaku seorang anak perempuan tersenyum di punggung salah satu kuda kudaan kayu paling bagus, badannya terbungkus semacam kulit coklat berbulu lembut, pelana dan tali kekang berhias manik manik dan irisan kaca, bundar dan bersinar.
Gambar gambar selalu mempertemukan siapapun yang sedang saling merindukan.
Dunia yang luas sekaligus sedarhana.
Kuda kudaan kayu tak perlu nama, atau mengingat wajah wajah kecil yang pernah menyentuhnya.
Maka aku kembali tersenyum tanpa sebab, atau karena aku sudah malas mengatakan bahwa hidup berayun ayun lembut di tangan waktu. Dan aku kembali mengingat ibu yang tak pernah membuatkan kenangan untukku*
Minggu, 02 Desember 2012
*
Seandainya bisa kutuliskan puisi terakhir untukmu, saat ini, bersama warna teduh dari balik jendela. Aku tidak tahu mesti menulis apa. Segalanya begitu mengalun, menyusup ke balik kulit, mengalir bersama darah di nadi nadiku.
Bagaimana menuliskan penyesalan.
Bagaimana menuliskan kebahagiaan.
Bagaimana menuliskan semua yang kuciptakan bersamamu, di setiap jalan.
Kita di bawah nauangan langit yang mungkin sama, mungkin berbeda. Bolehkah kupinjam matamu, atau kaucerikan saja caramu memandang angkasa, biru, awan, pohon pohon, angin. Aku mendengarmu.
Apakah yang mereka sebutkan, yang berharga dan akan digenggam ketika menemui ajal.
Mimpi tentang angsa putih yang terbuat dari roti, berenang renang di danau rasa stroberi. Sungguh mungil dan kekanakan.
Apa kau mengerti. Kau mengerti, aku sedang bercerita tentangmu kepada hatiku.
Rindu. Aku tidak menginginkan secuilpun dunia yang tak ada kau di sana.
Bukan cuma itu, selalu dan selamanya. Impian kekasih. Sepasang merpati, remah remah biskuit dan coklat hangat menodai baju kita.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak akan pernah kehilangan apa apa. Aku mengutipnya, terasa indah.
Aku merentangkan lengan lebar lebar, terbang. Dan tak bertanya tanya lagi tentang jalan.
Kau, sangat mengerti, aku tidak berhenti*
Bagaimana menuliskan penyesalan.
Bagaimana menuliskan kebahagiaan.
Bagaimana menuliskan semua yang kuciptakan bersamamu, di setiap jalan.
Kita di bawah nauangan langit yang mungkin sama, mungkin berbeda. Bolehkah kupinjam matamu, atau kaucerikan saja caramu memandang angkasa, biru, awan, pohon pohon, angin. Aku mendengarmu.
Apakah yang mereka sebutkan, yang berharga dan akan digenggam ketika menemui ajal.
Mimpi tentang angsa putih yang terbuat dari roti, berenang renang di danau rasa stroberi. Sungguh mungil dan kekanakan.
Apa kau mengerti. Kau mengerti, aku sedang bercerita tentangmu kepada hatiku.
Rindu. Aku tidak menginginkan secuilpun dunia yang tak ada kau di sana.
Bukan cuma itu, selalu dan selamanya. Impian kekasih. Sepasang merpati, remah remah biskuit dan coklat hangat menodai baju kita.
Kita tak pernah menanamkan apa apa, kita tak akan pernah kehilangan apa apa. Aku mengutipnya, terasa indah.
Aku merentangkan lengan lebar lebar, terbang. Dan tak bertanya tanya lagi tentang jalan.
Kau, sangat mengerti, aku tidak berhenti*
Langganan:
Postingan (Atom)