Kamis, 29 Januari 2015

karena tak tahu nomor handphonemu


Aku ingin menimpuk langit atau menangis. Akhirnya aku mesti menangis setelah tak mampu menimpuk langit. Langit teramat jauh dan tinggi, aku sangat kecil, ayunan tanganku tak cukup kuat, tak ada batu yang cukup ringan atau bisa terbang, langit tidak mendekat.
Aku menangis, setelah gagal menimpuk langit. Meneteskan air mata yang kemudian entah pergi ke mana. Aku hanya dapat berharap tangisku serupa hujan, setiap tetesnya jatuh, melesap ke dalam tanah, mengalir jauh atau dekat, lantas menguap. Berpindah tempat dari bumi ke angkasa, semoga air mataku akhirnya tiba di langit. Dan langit tahu ada yang berbeda yang menyentuhnya, bukan uap air biasa, melainkan uap air mata.
Bila harapanku menjadi nyata, aku ingin kau bertanya, kenapa aku ingin menimpuk langit atau menangis. Agar kudapatkan alasan, boleh berteriak dengan suara sebising dan sejauh angin hingga kaudengar, seperti kudengar bisikanmu semesra halilintar.
“Sebentar lagi hujan air, bukan hujan batu. Karena aku masih sayang padamu.” Sungguh? Akupun begitu, ingin menimpuk langit atau menangis demi memuaskan hasratku membalas pesan kilatmu*