Aku ingin menimpuk
langit atau menangis. Akhirnya aku mesti menangis setelah tak mampu menimpuk
langit. Langit teramat jauh dan tinggi, aku sangat kecil, ayunan tanganku tak
cukup kuat, tak ada batu yang cukup ringan atau bisa terbang, langit tidak
mendekat.
Aku menangis, setelah gagal menimpuk langit. Meneteskan air mata yang kemudian entah pergi
ke mana. Aku hanya dapat berharap tangisku serupa hujan, setiap tetesnya jatuh,
melesap ke dalam tanah, mengalir jauh atau dekat, lantas menguap. Berpindah tempat
dari bumi ke angkasa, semoga air mataku akhirnya tiba di langit. Dan langit
tahu ada yang berbeda yang menyentuhnya, bukan uap air biasa, melainkan uap air
mata.
Bila harapanku
menjadi nyata, aku ingin kau bertanya, kenapa aku ingin menimpuk langit atau
menangis. Agar kudapatkan alasan, boleh berteriak dengan suara sebising dan
sejauh angin hingga kaudengar, seperti kudengar bisikanmu semesra halilintar.
“Sebentar
lagi hujan air, bukan hujan batu. Karena aku masih sayang padamu.” Sungguh? Akupun
begitu, ingin menimpuk langit atau menangis demi memuaskan hasratku membalas pesan kilatmu*