Minggu, 16 Juni 2013
radikal
ada banyak alasan berumur panjang. untuk memenuhi bumi. memperbaiki diri. menambah ilmu dan amal. memuliakan leluhur dan membesarkan keturunan. meninggikan martabat. menjaga nilai nilai dan menjadi panutan. memenuhi janji atau menanti janji ditepati. berkarya. mencari dan meraih cita cita. melunasi hutang. tak ada habisnya disebutkan. dan belum kutemukan yang tepat untukku. jadi untuk apa aku hidup. seluruh hidup seolah olah hanya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan untuk apa hidup. bertambahnya umur tidak dengan sendirinya menambahkan pemahaman. hingga kupikir mereka yang wafat adalah mereka yang telah mendapatkan jawaban. dangkal macam mahluk tak berakal. aku kagum kepada manusia yang tidak merasa sia sia. bukan kepada segala pekerjaan mulia mereka, kepada ketekunan dan keyakinan mereka bahwa tidak sia sia. sayangnya aku tahu kekaguman hanyalah permulaan dari kesia siaan yang lain. serupa kekaguman seorang udik kepada tangga berjalan dalam gedung gedung megah. atau kekaguman orang kota kepada kejernihan mata air di bukit bukit. tak bertahan lama. seketika terlupa saat tiba di rumah masing masing. kemudian tenggelam dalam keheningan atau kebisingan yang sama sama akrab dan bersahabat. aku berharap semoga semua kesia siaan cuma akibat ketidak mampuanku sendiri saja. jika memang demikian maka lebih baiklah banyak manusia dengan kehidupan mereka. bahwa mereka memang puas dan bahagia dengan kehidupan masing masing. hingga tak ada waktu untuk merasakan rindu dengan sungguh sungguh. rindu yang tidak mengenal wujud dan waktu. apabila ada yang berumur panjang karena merasa masih butuh waktu mengumpulkan bekal perjalanan, alangkah ngeri kupikirkan, alangkah sia sia. selama ini ternyata belum mulai berjalan, masih mempersiapkan perjalanan saja. setidaknya mereka mempunyai alasan. tidak macam aku, yang cuma bisa merasa sia sia. jika tahu akan begini jadinya lebih baik tak mengenalmu. kalimatku terbaca macam penyesalan manusia bebal. benar. ternyata aku takjub pada kesia siaanku. nikmat, rasanya seperti memahat tubuhku sendiri, begitu kira kira mereka yang sakit jiwa akan berkata. benar benar memahat tubuh untuk menciptakan bentuk yang bukan diriku. kalau dilukiskan dengan lebih jelas, akan terlihat banyak serpihan daging dan darah berjatuham di tiap sayatan. pada akhirnya kalaupun berhasil menciptakan bentuk lain sebagai hasil karya seni memahat tubuh, apakah akan lebih sempurna dari bentuk semula. pertanyaan dan gambaran yang sangat goblok dan sekali lagi sia sia. tapi mesih juga belum cukup melukiskan rindu, atau kebenaran itu. itu. baru saja kusadari hukuman diusir dari firdaus sangat ringan dibanding dengan kesalahan manusia yang ngotot melanggar larangan memakan buah pengetahuan*