Minggu, 23 November 2014

kangen



Saat hidupku tinggal sehari. Maukah kau bergegas datang untuk memberiku pijatan refleksi. Ya, menekankan jari jarimu pada telapak kakiku. Aku mesti sehat sesaat sebelum tamat. Tak kuminta tambahan waktu semenitpun, tak juga sedetik. Kau yang harus terburu buru, berlomba dengan waktu, untuk memenangkan senyumanku*

rekognisi



Lantas aku harus takut buta. Hanya orang orang tidak buta yang takut buta. Untuk si buta, kebutaan tak lagi menakutkan. Hanya menghanyutkan. Manakah yang lebih gawat, menakutkan atau menghanyutkan.

Melewatkan. Itu paling gawat. Menguatkan juga lumayan gawat. Saat kuat, semua jadi mengerikan. Bahkan sekedar cegukan. Oh, sayang lemahkanlah aku, lumatkanlah, aku ingin menyejukkan seluruh lorong pencernaanmu. Kau tak ingin sembuh.

Sakit tidak menggigit. Ketika mengernyit seperti berpikir. Padahal, tak pernah ada sandal cemas terinjak. Tak ada satupun dari bermilyar milyar injakan mengoyak sandal. Misinya adalah berjalan.

Kucing tidak telanjang, mereka mengenakan mantel bulu setiap waktu*.

prang



Seperti aku, kau malu malu menemukan seraut wajah sedang tersipu menatapmu.
Cermin. Bukan, tapi bayang, pantulan. Jika tak terlihat namaku gema. Ada dari ada, tapi aku sesungguhnya tak pernah ada.
Kau ada, hanya karena aku ada.
Maka berpalinglah, biar kunikmati kehilangan jika benar benar ada yang hilang saat kau tiada.
Bagaimana dapat kulihat tiada yang hilang saat kupalingkan wajah.
Pandanglah tidak dengan mata. Atau pecahkan saja.
Prang. Atas nama keraguan.
Serpihan mata lebih cemerlang. Dia mendengar kesunyian. Dia menemukan kehilangan.
Apakah dia menemukan teman, selain tuhan.
Dia menemukan lantainya berantakan. Kereta api. Bis. Kapal laut. Pasawat terbang. Roket. Mobil. Keledai. Singa. Burung kakak tua. Ikan.
Ah, sudahlah. Kau lelah.
Kalau kau menyerah, aku kalah.
Bagaimana bisa, matamu telah pecah.
Begitu pula seraut wajah*

Rabu, 12 November 2014

i will



Who knows how long I've loved you 
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to, I will

For if I ever saw you
I didn't catch your name
But it never really mattered
I will always feel the same

Love you forever and forever
Love you with all my heart
Love you whenever we're together
Love you when we're apart

And when at last I find you
Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
Oh, you know I will
I will

Sebuah lagu. Satu lagu dari banyak lagu. Kunyanyikan untukmu. Kau harus mendengarnya, lagunya indah, entah suaraku. Kau tahu aku tak peduli apapun. Bernyanyi untukmu membuatku merasa cukup. Kau merasa terganggu. Mestinya begitu. Aku tak keberatan sedikitpun. Kau merasa terganggu dengan nyanyianku, artinya kau mendengarkan laguku.
Mencintaimu selamanya dan selamanya
Mencintaimu dengan segenap hatiku
Mencintaimu kapanpun kita bersama
Mencintaimu ketika kita terpisah
Terjemahanku tidak seindah lagunya. Sederhana, apa adanya. Kau tahu, untuk ini aku telah siap ditertawakan seluruh dunia. Kuharap kau ikut tertawa. Kalau kau tertawa, aku akan tak berdaya. Tak dapat menahan tawa, tak sanggup menghentikan air mata. Tertawa sambil menitikkan air mata, tidakkah terasa sama dengan matahari terbit dan matahari terbenam yang terjadi bersamaan. Seolah olah ada dua matahari sedang berjumpa pada sebuah langit penuh warna. Keduanya sedang merona wajahnya, saling pandang menjelang datang dan sebelum hilang. Alangkah tak terduga, fajar berjumpa senja di angkasa. Seolah olah tak sengaja dan salah arah, serupa pernikahan kita*

Selasa, 11 November 2014

ecclesiastes



Apakah ada bedanya? Pertanyaan yang akan muncul saat merasa tidak sama. Itukah yang dikatakan sebagai salah tempat antara sebab dan akibat. Sesuatu yang fatal, kata seorang filsuf aria yang konon akhirnya wafat dalam keadaan setengah gila. Aku tak berminat pada kisah hidupnya, pemikiran dan sudut pandang yang dipakainya mencengangkan. Mestinya tak mengejutkan sama sekali jika kemudian dia menjadi sinting.

Ketika merasakan sesuatu yang tak seperti biasanya, yang tidak sama, lebih sederhana disebut berbeda. Sebelum melanjutkan apapun yang sedang berlangsung, secara spontan akan bertanya, apakah ada bedanya. Semacam reaksi yang tak dapat dicegah. Serupa gema. Hanya saja bunyinya berbeda. Perbedaan yang harus ada untuk menyelamatkan rasa aman, agar tak hancur berantakan.

Tak ada yang menjual, menyewakan,apalagi meminjamkan rasa aman. Rasa aman harus diciptakan. Dan hanya dapat diciptakan ketika sedang merasa aman. Apa sih yang tidak ironis di bumi, belum ada. Pada saat sangat membutuhkan rasa aman malah justru tak akan pernah mendapatkannya, dalam situasi dan kondisi tidak mampu menciptakannya. Rasa aman kurang ajar. Ketika sedang tidak memikirkannya sama sekali, tak peduli, lupa atau dalam kondisi dan situasi aman terkendali, rasa aman tercipta begitu saja. Semacam menemukan tangga di atap menara, sia sia. Semakin tak berguna, rasa aman tak dapat disimpan, dijadikan cadangan yang dapat digunakan sewaktu waktu bilamana sangat perlu. 
Sekarang. Sekarang. Dan sekarang, saat paling tepat untuk menciptakan rasa aman, ketika segalanya berjalan sesuai rencana. Jangan nanti, rasa aman tak dapat diandalkan saat ada rintangan.

Tapi kita membutuhkannya, sekalipun dia kacau, tak dapat diandalkan, tak bisa dikendalikan. Kita tetap butuh dan tak berniat menyalahkannya, menuduhnya sebagai pecundang berwatak kejam. Maka jauhilah sebisanya, biar tak ada yang peduli padanya. Rasa aman semacam teman yang sialan. Yang tak pantas diberi jabatan tangan, senyuman, anggukan kepala, apalagi pelukan. Rasa aman patut ditendang sekuatnya, hingga melayang tinggi di gelap malam. Tiba di angkasa, rasa aman boleh berteman bintang bintang, menjaring angin. Menunggu pagi menunjukkan, tak ada yang baru di bawah matahari.

Sekarang kita sendirian, tanpa rasa aman. Apakah ada bedanya. Tentu saja. Rasa aman sudah tak ada, tak lagi dapat membohongi diri. Kecemasan masih duduk sambil merenung atau melamun, sudah nasibnya selalu dijauhi, dianggap buruk, dijadikan kambing hitam pada banyak kasus. Mana sebab, mana akibat. Kau sayang, aku sayang. Gubraakkk.

Alih alih memantulkan gema, guanya malah runtuh. Salahku. Salahmu. Guanya ingin menyelamatkan kau dan aku, dari gema semua kata yang pernah didengungkan para pertapa*