penyesalan tidak berguna, tidak memaklumi kesalahan, tidak memaafkan kekhilafan, tidak memperbaiki keadaan. tapi setiap orang perlu menyesal untuk membuat dirinya nyaman, demi tidur nyenyak dan simpati dari sesamanya. penyesalan semacam aturan yang wajib diterapkan sebagai salah satu syarat untuk mempertahankan kesehatan mental. jadi, jangan segan segan menyesal, meskipun secara diam diam.
segala yang harus dikerjakan, sebaiknya tidak dikerjakan setengah setengah. demi hasil dan manfaat maksimal, mengerjakan apa saja harus total, serius, dan tidak tanggung tanggung. apalagi dalam hal menyesal yang memang ternyata meski tidak berguna, tidak dapat disangkal berdampak luas dan dalam pada hidup seseorang, kadang kadang juga bagi sekelompok orang, bahkan masyarakat.
tak perlu ragu untuk menyesal, dari yang paling awal dan mendasar, menyesal telah dilahirkan.
kemampuan menyesal berkaitan dengan kesehatan mental. resiko ditafsirkan cari perhatian, galau, goblok, kacau, payah, cemen, cengeng, apapun juga, patut diterima, demi kewarasan. pada akhirnya, cuma yang menyesal telah dilahirkan dapat mempertahankan kesehatan jiwa dan raga hingga tibanya ajal. mereka yang bersedia menanggung setiap akibat menyedihkan dari menyesal karena telah dilahirkan, kemungkinan besar akan menjalani hidupnya secara lebih kuat mental dan wafat dengan gembira.
baiknya, tak ada kata terlambat untuk menyesal telah dilahirkan, selalu ada alasan dan kesempatan tepat di setiap langkah, sepanjang usia. hanya orang gila yang tidak dapat menyesali apa apa, yang tidak gila bisa menyesali segalanya. mudah sekali, menyesal telah dilahirkan, sangat mudah dibanding menyesal karena tidak atau belum menjadi gila*
Jumat, 30 Mei 2014
~
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar, diam diam aku sangat berharap kauingin tahu, bagaimana, seperti apa, selama apa..
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar. aku menanti kau diam diam memberikan perhatian..
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar, akan kukubur dalam dalam bila kau tak berkenan.
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar. akan kukerjakan segala agar kau tak dapat mengingat setiap kata kataku, yang pernah membuatmu resah.
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar, akan kukatakan sebelum kautanyakan, berulang ulang, hanya untuk membuatmu senang*
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar. aku menanti kau diam diam memberikan perhatian..
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar, akan kukubur dalam dalam bila kau tak berkenan.
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar. akan kukerjakan segala agar kau tak dapat mengingat setiap kata kataku, yang pernah membuatmu resah.
akan kukatakan sebelum kautanyakan. setelah kaudengar, akan kukatakan sebelum kautanyakan, berulang ulang, hanya untuk membuatmu senang*
sudut pandang
tanyakan, pada guru biologi, laba laba punya delapan kaki atau tangan. laba laba berjalan dan berlari dengan delapan kaki, mencengkeram dinding dan merajut sarang menggunakan delapan tangan. mana yang benar. tanyakan juga pada dokter hewan atau ahli serangga paling pintar. kalau tak ada yang tahu, atau tak ada kesepakatan mana jawaban paling tepat, tanyakan pada anak anak. anak anak selalu mengatakan apa adanya tanpa bimbang, tanpa memikirkan kesalahan. lalat bisa jadi lebih tahu, sayang tak ada lalat dapat menjawab pertanyaan. tak ada salahnya mencoba bertanya pada siapa saja, asal jangan tanya tuhan, pasti diam, bukan karena tak bisa menjawab atau tak tahu, tuhan terlalu sibuk mengatur pasukan malaikat*
Kamis, 29 Mei 2014
bola kaca
rumah dalam bola kaca. perempuan itu duduk tenang, menggenggam rumah dalam bola. seperti memperhatikan, seperti tidak melihat, matanya tertuju ke arah bola kaca berisi rumah. rumah dalam bola kaca seperti menyelam atau tenggelam. dikepung air. dari lantai hingga puncak cerobong asapnya berada di dalam genangan air. bola kaca penuh air. selain rumah, ada sesuatu serupa salju. setumpuk putih, butiran kecil dan serpih, bersandar pada tepian bola kaca yang kebetulan sedang berada di bagian bawah. sesuatu yang putih dan kecil serupa salju segera akan berhamburan, melayang tak beraturan bila bola kaca digerakkan. rumah itu serasi dengan salju. kelabu, kuning pucat, sedikit bergaris biru langit pada dindingnya. sebuah cemara muda melekat di sebelah kanan, sedikit ka arah belakang rumah, menyatu dengan dinding rumah, hijau cerah daunnya, coklat tua dahannya. tak beda dengan rumahnya, cemara kecil pantas sekali dikelillingi salju.
tidak harus melihat ke dalam bola kaca, siapa saja dapat menghadirkan salju dalam bola kaca. ayunkan, lebih kuat, salju segera berputar lantas bergerak ke bawah seolah berjatuhan, pelahan atau deras. gerimis atau badai. tak ada yang tidak cantik dipandang mata. seandainya saja perempuan yang memegangnya tidak buta.
sekalipun buta, bola kaca berisi rumah, cemara muda dan butir butir salju membuat keberadaan sepasang mata tampak indah. perempuan buta tahu, seringkali memandang lama, dalam angannya, seorang perempuan buta sedang meraba rumah, pohon cemara, dan salju yang terkurung dalam bola kaca.
rumah dalam bola kaca di sisi cemara muda itu indah, ibunya pernah berkata. sejak perempuan itu masih kanak kanak, lebih muda usianya dari cemara dalam bola kaca. seindah apa. perempuan buta dapat mengetahui lebih jelas jika bola kaca yang mengurungnya pecah. selembut apa saljunya, sungguh sungguh sesejuk salju sungguhan ketika menyentuh jari jarinya. banyak keindahan dapat dirasakan lebih nyata jika tak ada lagi bola kaca yang mengurungnya. perempuan buta ragu, genggaman tangannya sedikit goyah.
duduknya selalu tenang pada saat tangannya memegang rumah dalam bola kaca. telah jadi kebiasaan yang ditanamkan ibunya sejak dulu, perempuan buta harus patuh atau tak diijinkan menyentuh rumah dalam bola kaca.
segala kemungkinan hanya menggelisahkan bagian dalam kepalanya. sesuatu, pikiran namanya. kebutaan membuatnya melihat pikirannya, lebih tajam dari pada melihat jari jari tangannya.
pernah perempuan buta bertanya dengan pikirannya, kenapa rumah dalam bola kaca, benda paling indah yang diberikan dan ada padanya. alangkah baiknya bila ia dapat memegang, meraba, menyentuh dan menggenggam sebuah kotak musik. telinganya tidak tuli, jari jarinya peka. ia dapat merasakan keindahan lebih nyata dari kotak musik yang terbuka, rangkaian nada merdu pasti terdengar, dapat disentuhnya penari mungil yang berputar seirama musik. tidak mesti kotak musik. boleh juga sebuah boneka keramik, patung patung kristal, sebuah pajangan dari kayu atau tembikar. atau benda apa saja, asalkan tidak berada dalam bola kaca.
telah berlalu segala kemungkinan. rumah dalam bola kaca memastikan bahwa perempuan itu buta. hanya terdengar suara ibunya, dalam angannya, indah sekali, hujan salju. semakin kuat digerakkan semakin. menakjubkan, badai salju. rumah dan cemara muda tak terusik sedikitpun. perempuan buta saat itu masih muda, hanya mendengar suara ibunya. tak ada raungan angin atau hawa dingin. hujan salju, badai salju, yang bisu, terkurung dalam bola kaca, tak teraba. perempuan buta sama sekali tak dapat melihat cukup dekat, rumah dan cemara muda yang tabah, betapa inginnya perempuan buta menyentuh, melihat dan merasakan dengan jarinya keindahan yang diceritakan ibunya. seandainya tangannya tak terhalang bola kaca.
hati hati, jangan sampai pecah. bola kaca itu satu satunya milik kita yang terindah, yang tersisa, perempuan buta terkenang pesan ibunya. bola kaca di tangannya bergetar, perempuan buta tak sadar tangannya gemetar. salju beterbangan, melayang ringan, berjatuhan, menyerbu atap rumah dan daun daun cemara muda, tanpa suara, tanpa aroma. perempuan buta menatap lurus dan tajam. ke arah rumah dalam bola kaca, menembus badai salju dalam kedua bola matanya*
tidak harus melihat ke dalam bola kaca, siapa saja dapat menghadirkan salju dalam bola kaca. ayunkan, lebih kuat, salju segera berputar lantas bergerak ke bawah seolah berjatuhan, pelahan atau deras. gerimis atau badai. tak ada yang tidak cantik dipandang mata. seandainya saja perempuan yang memegangnya tidak buta.
sekalipun buta, bola kaca berisi rumah, cemara muda dan butir butir salju membuat keberadaan sepasang mata tampak indah. perempuan buta tahu, seringkali memandang lama, dalam angannya, seorang perempuan buta sedang meraba rumah, pohon cemara, dan salju yang terkurung dalam bola kaca.
rumah dalam bola kaca di sisi cemara muda itu indah, ibunya pernah berkata. sejak perempuan itu masih kanak kanak, lebih muda usianya dari cemara dalam bola kaca. seindah apa. perempuan buta dapat mengetahui lebih jelas jika bola kaca yang mengurungnya pecah. selembut apa saljunya, sungguh sungguh sesejuk salju sungguhan ketika menyentuh jari jarinya. banyak keindahan dapat dirasakan lebih nyata jika tak ada lagi bola kaca yang mengurungnya. perempuan buta ragu, genggaman tangannya sedikit goyah.
duduknya selalu tenang pada saat tangannya memegang rumah dalam bola kaca. telah jadi kebiasaan yang ditanamkan ibunya sejak dulu, perempuan buta harus patuh atau tak diijinkan menyentuh rumah dalam bola kaca.
segala kemungkinan hanya menggelisahkan bagian dalam kepalanya. sesuatu, pikiran namanya. kebutaan membuatnya melihat pikirannya, lebih tajam dari pada melihat jari jari tangannya.
pernah perempuan buta bertanya dengan pikirannya, kenapa rumah dalam bola kaca, benda paling indah yang diberikan dan ada padanya. alangkah baiknya bila ia dapat memegang, meraba, menyentuh dan menggenggam sebuah kotak musik. telinganya tidak tuli, jari jarinya peka. ia dapat merasakan keindahan lebih nyata dari kotak musik yang terbuka, rangkaian nada merdu pasti terdengar, dapat disentuhnya penari mungil yang berputar seirama musik. tidak mesti kotak musik. boleh juga sebuah boneka keramik, patung patung kristal, sebuah pajangan dari kayu atau tembikar. atau benda apa saja, asalkan tidak berada dalam bola kaca.
telah berlalu segala kemungkinan. rumah dalam bola kaca memastikan bahwa perempuan itu buta. hanya terdengar suara ibunya, dalam angannya, indah sekali, hujan salju. semakin kuat digerakkan semakin. menakjubkan, badai salju. rumah dan cemara muda tak terusik sedikitpun. perempuan buta saat itu masih muda, hanya mendengar suara ibunya. tak ada raungan angin atau hawa dingin. hujan salju, badai salju, yang bisu, terkurung dalam bola kaca, tak teraba. perempuan buta sama sekali tak dapat melihat cukup dekat, rumah dan cemara muda yang tabah, betapa inginnya perempuan buta menyentuh, melihat dan merasakan dengan jarinya keindahan yang diceritakan ibunya. seandainya tangannya tak terhalang bola kaca.
hati hati, jangan sampai pecah. bola kaca itu satu satunya milik kita yang terindah, yang tersisa, perempuan buta terkenang pesan ibunya. bola kaca di tangannya bergetar, perempuan buta tak sadar tangannya gemetar. salju beterbangan, melayang ringan, berjatuhan, menyerbu atap rumah dan daun daun cemara muda, tanpa suara, tanpa aroma. perempuan buta menatap lurus dan tajam. ke arah rumah dalam bola kaca, menembus badai salju dalam kedua bola matanya*
kulihat ibu pertiwi bernyanyi
aku punya negeri dikelilingi gunung berapi, gemah ripah loh jenawi. rakyatnya berbagi kursi di depan televisi. para pemimpin berbagi televisi di bawah kursi. kucingku sibuk mandi. gunung berapi hampir mendidih. ibu menanak nasi. anak anak menggali pasir bersama anjing kecil, mencari budi pekerti. bapak sedang berburu sepatu. oh, sandal jepitku terharu. warna biru, baru dibelikan ibu sambil menunggu gunung berapi berbagi abu. piring piring ingin dicuci, sebelum diisi nasi.
semua kursi berderet di depan televisi. ibu bapak guru senyum senyum sendiri. televisi menayangkan audisi. stand up comedy dan menyanyi. lucu, juga merdu. para juri duduk di atas kursi, berjajar, berujar. semua bisa menang, asal mau berlatih. tidak letih, tidak sedih. tegak berdiri meski terbatuk, mirip gunung berapi.
aku punya ibu, akhirnya siap menghidangkan nasi. aku lapar sekali. bapak pulang telanjang kaki, memanggul ladang dan tanah lapang. setelah kenyang kita boleh menanam atau menendang kebajikan. oh, meja makanku cemberut, dari tadi cuma tentang kursi. kucingku sudah bersih. gunung berapi hampir mendidih. saatnya anak anak dan anjing kecil dipanggil. budi pekerti malah sembunyi di balik baju ibu bapak guru yang sekarang tersipu. buku buku mencibir ke arahku, tidak lucu.
aku punya lagu, diajarkan masa lalu. lagu tentang seorang ibu yang tekun merawatku. kucingku malu malu setiap melihatku menelan air mata ketika bermain tanah. jangan menangis ibu, nasi itu menghiburku. gunung berapi segera berbagi abu. piring, sendok, garpu, panci, semua bisa dicuci. bapak berkata dengan suara berat, masih kusimpan kekayaan, hutan, gunung, sawah, lautan. cukup banyak trofi untuk dibagikan kepada yang tidak kebagian kursi. anak anak dan anjing kecil, bersorak dan menyalak. televisi bertepuk tangan. ibu bapak guru merenungi sepatu. nyanyikan lagi, agar ibu tak bersusah hati mengenang emas intannya. tertulis aman dalam setumpuk catatan yang dilindungi abu dari debu, juga waktu*
semua kursi berderet di depan televisi. ibu bapak guru senyum senyum sendiri. televisi menayangkan audisi. stand up comedy dan menyanyi. lucu, juga merdu. para juri duduk di atas kursi, berjajar, berujar. semua bisa menang, asal mau berlatih. tidak letih, tidak sedih. tegak berdiri meski terbatuk, mirip gunung berapi.
aku punya ibu, akhirnya siap menghidangkan nasi. aku lapar sekali. bapak pulang telanjang kaki, memanggul ladang dan tanah lapang. setelah kenyang kita boleh menanam atau menendang kebajikan. oh, meja makanku cemberut, dari tadi cuma tentang kursi. kucingku sudah bersih. gunung berapi hampir mendidih. saatnya anak anak dan anjing kecil dipanggil. budi pekerti malah sembunyi di balik baju ibu bapak guru yang sekarang tersipu. buku buku mencibir ke arahku, tidak lucu.
aku punya lagu, diajarkan masa lalu. lagu tentang seorang ibu yang tekun merawatku. kucingku malu malu setiap melihatku menelan air mata ketika bermain tanah. jangan menangis ibu, nasi itu menghiburku. gunung berapi segera berbagi abu. piring, sendok, garpu, panci, semua bisa dicuci. bapak berkata dengan suara berat, masih kusimpan kekayaan, hutan, gunung, sawah, lautan. cukup banyak trofi untuk dibagikan kepada yang tidak kebagian kursi. anak anak dan anjing kecil, bersorak dan menyalak. televisi bertepuk tangan. ibu bapak guru merenungi sepatu. nyanyikan lagi, agar ibu tak bersusah hati mengenang emas intannya. tertulis aman dalam setumpuk catatan yang dilindungi abu dari debu, juga waktu*
Rabu, 28 Mei 2014
gps
apakah itu dusta. banyak fakta semula hanya rekayasa. seperti bicara sambil bertatap muka dari jarak tak terhingga. sejauh apa. rumahku dengan tanah suci, rumahku dengan dasar laut, rumahku dengan luar angkasa. mereka telah menciptakan satelit. bila mau, semua orang dapat menjadi gelombang. ada apa di udara. kalau bukan kita. terbang atau berenang. dan bukan khayalan. di manakah jantungmu. bukan tempat atau tubuh. rindu tak peduli waktu. aku mulai mencari rambut bercabang, bukan untuk dihilangkan. apakah dua dan tujuh berbeda, sama sama hanya angka, bukan angkasa. aku suka jatuh cinta, melihat tidak dengan mata, terluka tanpa berdarah. merekayasa surga, apakah itu dusta*
batu hati jatuh hati
kenapa. kenapa mudah sekali jatuh hati. semudah batu tenggelam, demi harapan. oh, jangan lagi kaulontarkan sebutir batu. aku cemas, tak tahu batu yang mana adalah hatiku. jika harus tenggelam, pilihkan sungai tak tercemar, sumur tak beracun. lebih baik jangan melempar. ya, hatiku batu yang tak tahu diri. batu yang sangat mudah jatuh hati. apakah kau bocah bertangan usil, atau remaja yang percaya mujizat. aku ingin kau bermain dengan ranting, berdoa tanpa melemparkan apa apa. biar semua batu yang mungkin hatiku tetap berserakan, berdiam di darat, di permukaan, mendengar getar setiap langkah. menikmati debar hatiku sendiri, menanti terinjak pemilik kaki yang membuatku jatuh hati*
Langganan:
Postingan (Atom)