Rabu, 29 Januari 2014

seperti cinta

apa artinya menjadi manusia. artinya menjadi manusia. dilihat sebagai manusia.didengar sebagai manusia. dilihat sebagai manusia. dibaca sebagai manusia. ditulis sebagai manusia. dikenal sebagai manusia. diasingkan sebagai manusia. diakrabi sebagai manusia. menjadi manusia.
bagaimana caranya menjadi manusia. bisa dketahui setelah menjadi manusia, jika memang ingin dan perlu menjadi manusia dan masih begitu.
manusia berkata tentang manusia. manusia melihat manusia. manusia mendengar manusia. manusia menulis tentang manusia. manusia membaca menusia. manusia mengenal manusia. manusia mengasingkan manusia. manusia menemani manusia. manusia mengantar manusia. manusia menunggu manusia. manusia meninggalkan manusia. manusia membenci manusia. manusia menyukai manusia. menusia mendendam manusia. manusia memaafkan manusia.
apakah manusia. manusia mempertanyakan manusia. kepada manusia. hanya manusia. jika masih ada manusia lain, apapun pandangannya, suaranya, kata katanya, pekerjaannya, kesan kesannya. manusia menunjukkan manusia belum punah. manusia bukan satu satunya. manusia menjadi manusia, tanpa syarat*



*

kenapa memilih sunyi. bukan pertanyaan untuk seorang nabi. nabi bekerja, mengulang ulang suara si firman.
hantu, mereka mau tak mau harus memilih sunyi. lidah dan langit langitnya mulutnya tak lagi padat. mereka memilih atau terpilih, kata dasarnya sunyi. kenapa itu jebakan bermantel tebal kebijaksanaan. hati hatilah wahai hantu, kalau sampai terperosok, tak ada yang bakal menolong. suara suara, sekalipun berkata benar, hanya akan mengubah sunyi menjadi hantu. membunuh atau terbunuh, bermula dari bunuh. bahkan sesosok hantu dapat membunuh atau terbunuh sunyi jika tidak cukup tegar berdiam diri. seekor landak tertusuk durinya sendiri tidak sengaja membaca atau terbaca ironi*

Selasa, 28 Januari 2014

*

pilihannya adalah, menjadi jalan yang menyesatkan, atau menjadi orang tersesat yang menemukan jalan. rasanya setara dengan, menjadi iblis atau manusia beriman. bertebaran atau berjalan tegak. sayangnya, tuhan tidak bertanya sebelum menciptakan. kasihan para malaikat, beterbangan*

gelas kopi

dendamnya terperam hitam. pahit mendidih. setelah kabut terangkat, ia menjerit, suara hirupanmu bikin aku sinting. setangkup bibir menyentuhnya, ia meludah, lidah tidak peka. hanya melambai dan melambai saja, memanggil neraka atau menyapa, kau baik baik saja. sengit ia mendesis, rasakan sendiri. rasakan sendiri, alangkah muaknya basa basi. kemudian sepi. sepi. menghabiskan malam bersama keterasingan.
matanya perih, bau wangi, tak ada yang tahu bagaimana rasanya diguyur air dingin saat pagi masih buta. ia megap megap, tak tahu caranya menghentikan debar jantung yang bukan miliknya*

*

aku mati. kehidupan membunuhku, tanpa kematian itu. aku mati.
angin menggigil. aku menabraknya dengn tubuhku yang penuh getar.
kubangkitkan lagi. kunamai zombie.
aku buta. melahap otak. kepalaku berlubang.
kematian merayakan kehidupan.
langit menangis. kulempari kerikil. tanganku ragu ragu, bagaimana beku.
bagaimana abu. musim koin. sehelai cambuk, sekuntum kembang sepatu.
sebelumnya, kukabarkan aku lupa warna. dan air mancur tak lelah melonjak.
kehidupan sekarat. aku memanjat, mengerat, serat serat jatuh.
ini baru lezat. tahu tidak. aku melihat seorang mayat bunuh diri*

Senin, 27 Januari 2014

*

barusan baca baca beberapa tulisan seorang teman perempuan yang baik. betapa senang ada yang menulis catatan catatan seperti yang dituliskannya. hangat dan terang, seperti pagi yang cerah. setelah merasa telah menulis sangat banyak dan di mana mana, di buku, kertas kertas, dan internet, betapa ironisnya menyadari tak ada satupun tulisanku bisa kubaca sehangat dan seterang tulisan teman yang baru kubaca. yang sedang kutuliskan sekarang ini kutiliskan karena aku telah membacanya, ingin membacaku seperti aku membacanya. menuliskan catatan dari seorang manusia berjenis kelamin perempuan yang hidup normal, setiap hari pada satu bumi yang sama kuhuni. sulit. ternyata sulit. caraku menulis sebuah peristiwa atau rasa selalu tidak gamblang. apakah aku selalu lebih suka gelap atau remang remang, lebih suka yang surealis ketimbang realis. kenapa. kurasa tak berhak mengganggu seorang teman yang baik dengan pertanyaan egois. hanya ingin tahu kenapa aku tidak bisa menulis seperti dia. pertanyaanku mesti kujawab sendiri. selalu ngotot merasa eksklusif untuk diriku sendiri. kehidupan begitu hangat dan terang, begitu sederhana dan manis, begitu luas dan jelas. dan aku berkutat hanya dengan sebuah kotak hitam. di luar atau di dalam, saat menulis hanya kotak hitam menjadi pusat perhatian. kalau ada yang bersedia memaafkan aku mau minta maaf. aku pengecut, tidak berani mengaku bahwa di luar sana banyak kehangatan dan kecerahan. jauh atau dekat, semuanya cerah, kecuali yang tidak mampu kutinggalkan. kotak hitam. dunia kotak kotak. ah, jangan itu lagi. jangan lagi mengagungkan kegilaan dan misteri, setidaknya sampai selesai menulis yang satu ini.
malam ini, seperti kemarin, dan hampir setiap malam, aku duduk dalam sebuah kamar. di depanku seperangkat komputer diam dan pasrah pada kehendakku. sebuah lagu pilihan seorang lelaki muda paling ganteng sedunia mengalun. sesekali aku dan lelaki muda saling bicara, tentang apa saja. selalu tentang hal hal sederhana yang bikin hatiku berbunga. aku merasa sedang melewati masa muda bersamanya, dengan cara yang berbeda dari yang pernah kukerjakan. lelaki muda yang sewaktu masih kecil tergila gila pada kereta api. lelaki muda yang lebih ingin menjadi guru dari pada akuntan. lelaki muda yang bertanya, apakah hidup harus selalu mempertimbangkan materi. aku dan lelaki muda sering kali berbagi macam macam merk sigaret, dari ji sam su sampai ares. apakah ini nyata, aku selalu ingin bertanya. rasanya lebih hebat dari ilusi, lebih manis dari misteri. seperti bukan dunia yang pantas kumiliki. aku masih ingat benar bagaimna rasanya saat melihatnya pertama kali. suara tangisnya semasa bayi. kemarahan dan pelukan. apa saja. segalanya  yang selalu kutuliskan dengan cara berbeda, macam macam, tapi tak pernah cukup nyata. hidup memang penuh kejutan. oh, dia mengganti lagunya, tak enak didengar, kalau dia tanya pendapatku. tapi apa boleh buat. untung tidak lama, setelah kutanya, apa itu, dia jawab, gak jelas. yang ini juga tidak cocok suasananya, tapi sekali lagi apa boleh buat. kalau saja ada yang bisa mengubah dunia, pasti bukan aku. kalau ada yang bisa menyayangi manusia apa adanya, juga pasti bukan aku. aku cuma ibu yang menemukan kenyataan seorang anaknya menjadi seseorang yang setengah tidak dikenal, mengagumkan, tak terduga. beginikan seharusnya aku bercerita. sebuah kejadian yang belum terlupa. rasanya seperti bukan aku yang sedang melewati malam ini. memang sulit. lebih mudah tenggelam dalam diri sendiri. tapi kenyataan selalu ada, memandangku dengan mata hangat, penuh sayang, selalu menungguku megap megap kehabisan nafas setelah tenggelam cukup dalam.
tak ada yang mengharuskan aku menulis apa. kecuali aku. ya, tiba tiba aku tahu, setelah mencoba menulis kenyataan. caraku menulis cuma sekedar akibat kebiasaan. kebiasaan menjadikan kegiatan menulis sebagai pelarian, atau pengalihan, dari kenyataan. kotak hitam itulah ternyata kenyataan di alam bawah sadar. yang lebih sering kupandang dari sisi luar, karena telah sangat tertanam, pengalaman menanam keyakinan. bagian dalam kotak hitam pasti gelap, pengap, tidak luas. tidak mau tahu segala, lebih nyaman dari pada tahu beberapa hal yang tidak dimaui. dalam kotak hitam mungkin ada sebuah bola dunia, atau labih luas, bola dunia lengkap dengan tata surya, sebuah galaksi, tentu ada juga mataharinya. aneh. membingungkan. atau malah kotak hitam itulah aku sendiri. apakah aku dan kenyataan satu atau terpisah. aku tidak tahu. paling simple mengatakan tidak tahu, selain simple juga mengesankan yang mengatakannya adalah pribadi bijaksana yang tidak sok tahu. ya, kalau durhaka pantas dikutuk menjadi batu, kalau pengecut boleh memilih dikutuk menjadi jeruk. seharusnya tidak begitu kan, aku pernah menulis tidak mempunyai teman seorangpun. semoga tuhan sungguh sungguh maha pengampun*

*

kekosongan mengusirku dengan kejam. tak tahu bagaimana caranya, hanya terasa kejam. kekosongan tak ingin menjadi yang lain, kecuali dirinya sendiri. untuk melewatkan waktu atau menghibur diriku, aku mencari perumpamaan tepat mengenai keterusiran yang kurasa kejam. kekosongan serupa tiram, hidup, utuh, lengkap dengan cangkangnya, berada pada habitat semestinya. aku partikel yang melayang bersama gelombang lautan, entah sejenis apa, debu, plankton, atau segala macam serpihan yang biasa terhanyut air laut. gelombang membawaku memasuki cangkang tiram yang kebetulan sedang terbuka. aku mendarat pada daging tiram, aku tak tahu pula nama atau sebutan yang lebih tepat untuk segumpal kelembutan yang berdenyut dan hidup di dalam cangkang tiram. jika aku bisa mendarat padanya, kubayangkan akan kurasa serupa membaringkan tubuh di atas setumpuk selimut, mungkin kurang tepat karena di sana basah dan licin. mirip, setumpuk selimut satin yang belum kering sehabis dicuci, empuk, sejuk, berwarna dan berkilau lembut. kelebihannya, hidup. mestinya aku boleh diam di sana, selama yang kubutuhkan, hingga tiram menutup cangkangnya. dan entah bagaimana tiram akhirnya mengubahku menjadi sebutir mutiara. begitulah kisah yang lazim dan selalu terjadi di samudra. tapi, tiram yang kuandaikan kekosongan ini bukan tiram biasa, dia pilih pilih, tak sudi menelan atau mengijinkan semua yang melayang pada gelombang memasuki cangkangnya. ya, beginilah yang terjadi, kekosongan mengusirku, tidak mengijinkan aku memasukinya, tidak mebolehkan aku diam di dalamnya. apapun juga sebenarnya aku, hanya melayang selamanya, mendekati dan menjauhi, tidak pernah masuk dan menjadi bagian dirinya. kekosongan tak mau aku menjadi cantik dan berharga, serupa mutiara. apapun adanya aku, kekosongan tak sudi menerima, apalagi mengubahku menjadi bukan aku, yang lebih dari aku. apakah ini nasib atau takdirku, atau kekosongan itu. semua bisa saja benar sekaligus tepat. kekosongan mengusirku, sangat kejam. aku mau pulang, kalau dapat mencegah diriku tidak melayang. tidak, lagi lagi tidak, aku tak bisa pulang. kekosongan dan rumah adalah dua hal berbeda, yang pertama mengusirku, yang kedua tiada. aku jadi mirip gelandangan yang melayang layang. gelandangan tak berumah, tak bisa terbang atau mendarat pada tempat yang diinginkan. gelandangan seharusnya tidak ringan, tidak sangup melayang layang, di darat, air atau udara. telah kutambahkan lagi, sebuah perumpamaan yang salah. tak ada yang marah, tak ada yang bisa marah kepada kesalahannya sendiri. tidak sampai hati. sesudah semua usahaku menghibur diri tidak berhasil, waktunya habis. aku tersenyum sinis, masih kusimpan harapan terakhir, ada yang melihatku, bersedia menyia nyiakan waktu sejenak, untuk mengatakan sesuatu. sesuatu yang seperti, senyummu manis. basa basi atau sepenuh hati, aku tak peduli. kadang kadang, seorang manusia lebih menginginkan kejutan yang murahan dari pada niat mulia untuk memberi yang berharga. gelandangan yang sedang melayang akan lebih baik cuma sekedar diberi sebatang coklat ketimbang sebatang emas. sebatang coklat dapat segera dilahap, menghangatkan lambung, meredakan kecemasan dalam sekejap. sebatang emas dapat sangat merepotkan, gelandangan mesti berusaha keras berhenti melayang, berjalan keluar masuk ruang untuk menukarkan sebatang emas dengan uang atau makanan. kemungkinan terburuknya, seorang geladangan yang tiba tiba membawa bawa sebatang emas bisa diduga hingga dituduh memperoleh sebatang emasnya dengan cara tidak wajar, bisa mencuri, merampok, atau cara lainnya yang semua tidak bagus. sisi baiknya, hampir pasti tak ada seorangpun yang mau memberikan sebatang emas kepada gelandangan yang sedang melayang. jadi harus berkata apa, rasanya tak ada yang salah. kekosongan itu masih membuka tutup pintunya serupa cangkang tiram, tak mau diam. seperti seorang tua kesepian yang tidak dapat berhenti menggumam. hiii, aku harus menjelma menjadi lalat kalau ingin masuk ke dalamnya*