Selasa, 31 Desember 2013
*
di dunia, di kota ini, masih ada seorang baik hati. rela berdiri di pusat kota cukup lama tanpa banyak bicara. hampir setiap hari kutemui, seorang baik hati tak pernah lelah, terus menerus membuat gelembung gelembung beterbangan di udara. sangat banyak gelembung gelembung bebas melayang, seorang baik hati selalu membuat sangat banyak gelembung. hingga tak sempat kulihat satu di antaranya pecah..semua gelembung tak gentar terbang, tak berkelit saat ingin disentuh. mestinya banyak gelembung meletus. namun sekali lagi kukatakan, seorang baik hati selalu lebih tangkas dari tangan siapapun, dengan cekatan membuat sangat banyak gelembung. semuanya kelihatan secantik bola kristal, rapuh dan utuh, terbang riang, seakan tak ada satuipun gelembung berkurang atau hilang dari pandangan*
*
iya. membaca. kalau perintah pertamanya menulis akan runyam. menulis tulisan yang tidak dapat dibaca, macam orang gila.
beberapa kali terlihat memandangi surat kabar dengan mesra. adakah wajah kekasihnya, diberitakan bahagia di sana. bocah bocah mengejek lalu tertawa, satu dua melemparkan gumpalan kertas. sekali lemparan bocah bocah mendarat tepat di jidatnya. orang gila memungut gumpalan kertas yang terjatuh dekat lututnya. berkat tangan kusam orang gila, segumpal kertas diluruskan menjadi selembar kertas. masih kusut. orang gila tersenyum. bocah bocah menjauh.
orang gila tidak memegang pensil atau pena, atau belum. aku yang punya alat alat tulis itu. surat kabar berbaring sendirian di trotoar. aku menggambar rumput. di halaman rumah, di sekitar pangkal pohon, di alun alun. tanpa sengaja menemukan huruf tumbuh di celah rumput. bocah bocah berlari, berkejaran, menginjak rumput. kertas gambarku menjadi kusut.
macam orang gila, aku tersenyum*
beberapa kali terlihat memandangi surat kabar dengan mesra. adakah wajah kekasihnya, diberitakan bahagia di sana. bocah bocah mengejek lalu tertawa, satu dua melemparkan gumpalan kertas. sekali lemparan bocah bocah mendarat tepat di jidatnya. orang gila memungut gumpalan kertas yang terjatuh dekat lututnya. berkat tangan kusam orang gila, segumpal kertas diluruskan menjadi selembar kertas. masih kusut. orang gila tersenyum. bocah bocah menjauh.
orang gila tidak memegang pensil atau pena, atau belum. aku yang punya alat alat tulis itu. surat kabar berbaring sendirian di trotoar. aku menggambar rumput. di halaman rumah, di sekitar pangkal pohon, di alun alun. tanpa sengaja menemukan huruf tumbuh di celah rumput. bocah bocah berlari, berkejaran, menginjak rumput. kertas gambarku menjadi kusut.
macam orang gila, aku tersenyum*
*
setan alas akan bercerita. cuma bercerita, nyata atau tidak nyata, cuma cerita. biasa saja. dengar saja. setan alas adalah mahluk yang sempurna. ia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa saja. hingga suatu hari tanpa sengaja setan alas mendengar seorang manusia berkata, itu seekor serigala. saat mendenngar suara manusia dan melihat serigala, setan alas belum menemukan sesuatu yang istimewa. tak lama setelah menuliskan tentang manusia, serigala, kata kata manusia, gerak dan seringai serigala. setan alas membaca dan menyadari ada sesuatu yang tak ada padanya. setan alas membaca tulisan, seorang manusia, seekor serigala, karena terdapat satu manusia dan satu serigala pada kalimatnya. satu setan alas juga dimaksudkan ada satu setan alas sedang membaca, bisa jadi ditulis dan dibaca berkali kali pada satu cerita. satu setan alas tidak dituliskan seorang setan alas atau seekor setan alas. setan alas memang bukan orang dan tidak berekor. tapi setan alas juga mahluk, nyata atau tidak nyata, setan alas telah disebut tanpa kata penunjuk. tidak ada keterangan, apakah setan alas cuma satu satunya setan alas yang mendengar suara seorang manusia ketika melihat seekor serigala. apapun yang bisa dilakukan dan didapat setan alas, tetap saja setan alas adalah setan alas, tidak membuat setan alas menjadi seorang setan alas atau seekor setan alas. setan alas juga tidak mungkin menjadi sebuah setan alas atau suatu setan alas. kedengaran dan kelihatan janggal. sekali setan alas, tetap setan alas, manusia berseru, serigala melolong, ketika mendapati setan alas sedang membaca. entah terkejut atau tak acuh, seorang manusia dan seekor serigala sama sama diam. menanti ceritanya berlanjut. pada suatu hari setan alas membaca sebuah buku cerita di bawah sebatang pohon, begitu asyik. tak terusik suara teriakan dari entah siapa. seorang manusia, seekor serigala atau sebilah pisau yang seharsunya tak dapat bersuara. seorang manusia boleh menampar, sekor serigala sanggup mencakar, sebilah pisau pintar menyayat. setan alas bisa menceritakan semua, setelah tamat membaca ceritanya. cerita yang biasa saja tentang seorang manusia, seekor serigala, sebilah pisau. teriakan, biasa saja, bisa menjadi makian, sekali setan alas tetap alas. setan alas semakin tenggelam dalam keasyikan ketika teringat, setan alas pernah bisa menjelma menjadi seorang anak, tidak mendengar untuk mendapatkan kesenangan menjadi seseorang*
Senin, 30 Desember 2013
*
pernahkah merasa bersalah. bagaimana rasanya bersalah. manis, pahit, asin, hambar, asam, panas, dingin. enak, gurih, sedap, pedas, segar, hangat, nikmat, sakit, sehat. kucoba menyebutkan semua rasa yang kuingat pernah ada dan dirasakan manusia. bisakah ditambahkan, salah, benar. seperti apa rasanya salah dan benar. salah benar terasa janggal disebut rasa. kalau cinta dan benci, serta semua pengikutnya, rindu, cemburu, galau, jenuh. rasa rasanya cuma bikin bingung. pernahkah merasa bersalah. bagaimana dapat menjawabnya jika tidak tahu bagaimana rasanya bersalah. aku sudah lupa namanya, cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna kata. apa, lupa juga mempunyai rasa. lupa pernah merasa bersalah, ada banyak rasa di sana. rasa lupa, rasa bersalah, rasa pernah. seorang manusia cuma memiliki lima indera, sangat kurang. jauh dari cukup untuk merasakan setiap rasa yang mungkin ada, atau mengada ada. rasa bersalah, bagaimanakah rasanya, melihat, mendengar, mencium, mencecap, menyentuh, menggunakan mata, telinga, hidung, lidah, telapak tangan. di mana baiknya merasakan rasa bersalah. tentu saja, semua anak sekolahan akan menjawab serempak sambil menunjuk dadanya masing masing, pada hati nurani. seperti tidak pernah belajar biologi. padahal banyak di antara mereka yang ingin jadi dokter. dokter saja, tanpa jiwa dibelakangnya. bukan dokter jiwa, harus ditegaskan agar tidak salah ditafsirkan hingga menimbulkan rasa bersalah yang tidak dapat dijelaskan bagaimana rasanya dengan ke lima indera manusia. masih panjang dan melingkar lingkar atau justru lurus dan segera putus. benarkah bertanya pada semua paus, di darat maupun laut. kalaupun salah, toh tidak tahu bagaimana rasanya bersalah. dapatkah merasa bersalah tanpa pernah tahu bagaimana sebenarnya rasanya bersalah. cukup. bagaimana rasanya cukup. aku merasa hidup. bagaimana rasanya hidup. cukup*
Minggu, 29 Desember 2013
*
manusia tak akan ingin memiliki sepasang sayap kalau ia bisa terbang. bukan tumbuhnya sepasang sayap yang diharapkan. kemampuan berada di ketinggian, tubuh ringan, berpindah tempat dalam sekejap tanpa hambatan. harapan yang menjadikan seseorang menciptakan pesawat terbang.
burung burung diciptakan bersayap agar dapat terbang, atau karena burung burung tak akan pernah bisa menciptakan pesawat terbang.
menaruh sesuatu, bahkan yang paling ringan pada timbangan berakibat berat sebelah, miring, tidak seimbang. hanya timbangan kosong kedua sisinya selalu seimbang, sejajar, datar, lurus. serupa rentangan sayap elang yang sedang melayang terbang*
burung burung diciptakan bersayap agar dapat terbang, atau karena burung burung tak akan pernah bisa menciptakan pesawat terbang.
menaruh sesuatu, bahkan yang paling ringan pada timbangan berakibat berat sebelah, miring, tidak seimbang. hanya timbangan kosong kedua sisinya selalu seimbang, sejajar, datar, lurus. serupa rentangan sayap elang yang sedang melayang terbang*
*
semua dapat menelan ludah, tanpa belajar, tanpa latihan. tidak ada seorang ahli menelan ludah di dunia, seolah olah tak ada yang bisa melakukannya dengan benar.
kadang kadang film buruk mempunyai sepotong dialog bagus. namaku mika. raizo, nama yang diberikan padaku.
semua orang bernama. menyebutkan namanya seolah olah miliknya, bisa dipilih, dipakai, diganti, dibuang. padahal nama adalah pemberian semena mena yang tak dapat ditolak. lebih buruk dari berkat atau laknat yang diterima sebegai akibat perbuatan. semua orang menerima namanya tanpa sebab, melekat sepanjang hayat. beberapa orang harus dan sanggup mengganti atau menyamarkan namanya, namun sebelumnya, tetap saja ia pernah diberi nama yang tak dapat ditolak. menakjubkan, semua orang dapat melakukannya dengan benar. menyebutkan namanya, tanpa belajar, tanpa latihan. ketika seseorang dengan sadar menelan ludah. entah untuk apa, ada yang menelan ludah untuk meringankan dahaga. saat itu ia pasti sudah dapat menyebutkan namanya. setiap orang selalu berkata, namaku, namanya. bukan nama yang diberikan padaku atau nama yang diberikan padanya.
semua anjing mahir menujulurkan lidah, meneteskan liurnya. sadar atau tidak, seolah olah ikhlas menjadi anjing. tak dapat menyebutkan namanya sendiri atau nama yang lain. hanya segera menghampiri dengan mata bersinar, ekornya mengibas riang. bahasa tubuhnya mengisyaratkan seekor anjing selalu senang namanya disebut oleh seseorang yang dikenalnya.
ludah, liur dan nama nama. moralitas, budi pekerti dan keikhlasan. semestinya tidak menghantui orang atau anjing yang sedang belajar berlari lari di muka bumi*
kadang kadang film buruk mempunyai sepotong dialog bagus. namaku mika. raizo, nama yang diberikan padaku.
semua orang bernama. menyebutkan namanya seolah olah miliknya, bisa dipilih, dipakai, diganti, dibuang. padahal nama adalah pemberian semena mena yang tak dapat ditolak. lebih buruk dari berkat atau laknat yang diterima sebegai akibat perbuatan. semua orang menerima namanya tanpa sebab, melekat sepanjang hayat. beberapa orang harus dan sanggup mengganti atau menyamarkan namanya, namun sebelumnya, tetap saja ia pernah diberi nama yang tak dapat ditolak. menakjubkan, semua orang dapat melakukannya dengan benar. menyebutkan namanya, tanpa belajar, tanpa latihan. ketika seseorang dengan sadar menelan ludah. entah untuk apa, ada yang menelan ludah untuk meringankan dahaga. saat itu ia pasti sudah dapat menyebutkan namanya. setiap orang selalu berkata, namaku, namanya. bukan nama yang diberikan padaku atau nama yang diberikan padanya.
semua anjing mahir menujulurkan lidah, meneteskan liurnya. sadar atau tidak, seolah olah ikhlas menjadi anjing. tak dapat menyebutkan namanya sendiri atau nama yang lain. hanya segera menghampiri dengan mata bersinar, ekornya mengibas riang. bahasa tubuhnya mengisyaratkan seekor anjing selalu senang namanya disebut oleh seseorang yang dikenalnya.
ludah, liur dan nama nama. moralitas, budi pekerti dan keikhlasan. semestinya tidak menghantui orang atau anjing yang sedang belajar berlari lari di muka bumi*
Langganan:
Postingan (Atom)