Sabtu, 30 Maret 2013

loving

ketika cinta ada tidak untuk mengerjakan sesuatu. ketika kau menjadi udara, dan aku mahluk yang menghirup dan menghembuskannya selalu. keajaiban menjadi tak perlu ada di antara kita. hutan hutan dalam paru paruku berkicau nyaring jika tidak sedang terdiam mengamati bentuk bentuk awan. batu batu bersorak mendengar tangis pertamaku. aku tidak mengenalmu waktu pertama kali kau memenuhi setiap rongga di tubuhku. bahkan tidak mengenal diriku. aku hanya menangis, untuk pertama kali dan menjadikan pohom pohon mengerti cara menyambut seorang bayi. membungkusku dengan sehelai angin paling hangat. angin yang tidak pernah menceritakan satupun dari seluruh kisah kisah yang pernah didengar dan dilihatnya dari balik dinding. aku akan tumbuh sampai ke dasar laut atau patah pada saat pertama menjulurkan dahan. kau terus bernyanyi, cinta ada tidak untuk membuatku menangis atau tidak menangis*

Jumat, 29 Maret 2013

i see

Jika suatu ketika aku menemukanmu, aku tidak mau saat itu sedang mencarimu. Biarlah kita bertemu. Aku lebih suka menjadi sebatang rumput yang tidak pernah menunggu injakan kakimu, sekalipun kau tidak mengenakan sepatu atau alas kaki apapun. Tidak kusambut kedatanganmu serupa kaum manusia menjalankan ibadah. Yang paling menyenangkan, rumput pasti tidak bertanya. Kalau benar kau sehebat yang sering dikatakan semua suara, kau pasti tidak akan berlalu begitu saja. Kalau kau sehebat yang kubayangkan, kau akan berhenti. Menemukanku patah atau merunduk tepat di bawah langkahmu. Tidak pergi begitu saja, kau melihatku dan bertanya, mungkin tanpa suara. Tapi kudengar kau bertanya, apakah aku sengaja berada di jalanmu, menantimu lewat dan menginjakku tanpa kecemasan sedikitpun, tanpa prasangka, tanpa harapan kau akan menunjukkan perhatian.
Bisa kurasakan kau bosan dengan kata kata, yang tersirat dan tersurat, terucap dan tertelan. Kau tidak menjawab dengan alasan atau tanpa alasan. Menumbuhkan rumput liar di segala tempat, tidak berharap ada yang belajar tidak bertanya darinya. Hanya melambai seirama tarian udara, tumbuh tegak menatap angkasa. Tiada sayap, tangan, kaki, mata, hidung dan mulut. Hidup sesaat dan selamanya, menjadi saksi pergantian cuaca. Tidak perlu belajar isyarat atau pertanda apapun yang cuma menumbuhkan kecemasan dan kelegaan untuk mengalihkan perhatian. Rumput tidak mendekat atau menghampiri, tidak menjauh atau sembunyi. Dan sekali lagi kukatakan tidak menanti.
Aku tidak berpikir seluas apa alam semesta, tidak peduli sepanjang apa jalan jalan di bumi, betapa rumit sudut dan keloknya. Aku melihat, tidak ada penghalang apapun antara sebatang rumput dan sebentang langit*

Kamis, 28 Maret 2013

converse

Jarak adalah benang yang terentang di antara tangan kanak kanak dan layang layang. Kanak kanak menggerakkan layang layang. Layang layang menerbangkan kehendak kanak kanak. Keriangan udara mengulurkan benang kian panjang. Kegelapan mungkin kelak menghentikan permainan. Putaran waktu mengantar kembali anggukan ibu, menjawab mata penuh harap yang bertanya, sekarang saatnya kembali mengasah benang*

sequel

Aku mendengar percakapan bahasa asing sepanjang perjalanan pulang. Seperti petunjuk jalan. Untuk pulang, ketika rumah hanya sebuah kata. Kukira penerbangan lebih tepat ketimbang perjalanan. Ketika tujuan menjadi jalan. Melompati genangan air sambil membenamkan kaki. Kudengar suara alarm, azan, hujan bertepuk tangan. Karena kekalahan kelelahan. Ke sini, menepilah, menjadi pembungkus kepala menjelang masak. Kelelawar mengetuk ngetuk dengan taringnya, tikus bersayap bertelinga hebat mendengar dan lapar. Pada denyut urat kepala, baru saja kukatakan jangan resah. Jangan resah kalau tenggelam kegelapan. Jauh di dalamnya kembang api menunggu api. Menunggu isyarat musim berganti. Air, tetaplah cair meski telah menjadi asin, sewarna buah kembang api.
Kata pertamanya adalah sepi, lalu tak bicara lagi. Kelelawar memeluk dahan pohon dengan kaki. Tikus bersayap bertelinga hebat tidak menanam, tidak memetik kembang api, tidak mati. Kepalanya penuh telaga berwarna jelaga, masih hangat dan berasap*. 

Rabu, 27 Maret 2013

thew



Kita di sana. Persis caramu melihat ke gerak bibirku, menyentuh punggungmu yang bergerak naik turun seirama kayuhan kakimu. Roda sepeda berlari kencang seakan takut kehilangan, kita dan sesuatu yang dinamai kebahagiaan oleh penghuni bumi. Kita cuma mengenal perjalanan. Dari pagi ke pagi, melewati bulan, bintang bintang dan matahari yang terpana memandang buah hati yang ranum dalam pelukanmu. Aku tak sadar bicara bahasa burung. Kau serindang pohon, mendengar dan memahamiku tanpa perlu membaca kamus. Tanah ramah dan murah hati terbentang, saling mengirim pesan di setiap putaran roda. Kita jangan pergi, jangan berteduh dari langit*

sublime



Aku menduga kau tak akan percaya kalau aku cerita. Tak apa, tetap akan kuceritakan. Kau boleh tak percaya atau percaya. Kenyataan tetap indah. Ketika dalam perjalanan pulang kulihat seorang perempuan kurus dan kusut menggendong dua anak balita, mungkin sekali anaknya. Perempuan itu layak memiki keduanya. Anak anak yang terlelap. Satu kepala kecil disangga lengannya, satu kepala kecil lainnya terkulai di pundaknya. Satu dada, satu pundak, sepasang tangan, selembar selendang, dua anak kecil yang sedang bermimpi. Mimpi yang selalu menemaniku sepanjang hari, mimpi tentang bumi, pantai sepi, anak anak anjing, nyanyian air. Aku tak bisa menuliskan sebaik yang kuinginkan untuk membuatmu mengingat pelangi yang selalu kauterbitkan untukku. Kemarin dan kemarin dulu. Tapi aku mau kau paham benar aku merasa kehangatan hujan yang selalu kunantikan. Ketika kulihat seorang perempuan berjalan dalam naungan cahaya malam, menopang dua kehidupan. Masa depan, biar saja tenggelam. Lautan waktu tidak akan membunuhku atau kau yang bisa berenang sampai ke seberang. Bumi menyimpan senyuman yang ditanamkan kaki kaki telanjang*

rest



Siang melambaikan tangan lalu berjalan pelan. Menyisakan punggungnya yang menyilaukan. Meninggalkan penantian kegerahan di tepi tepi jalan. Berjejer kegerahan dengan kegelisahan, saling memandang dengan keengganan menanyakan tempat dan tujuan. Seakan akan mereka sedang belajar bersama tentang keputus asaan. Dan paham bahwa senja pasti datang menggantikan cerita. Tidak menyimpan sesuatu yang sungguh sungguh penting untuk dibicarakan. Dan aku kehilangan kehendak dengan cara paling hangat. Menyipitkan mata menatap cahaya silau yang menyerbu ke arah mata bersama debu debu yang tak pernah berhenti bergumul dalam gelembung udara. Penantian berbisik, nada suaranya sendu. Tentang rumah kayu, kerlip gelombang, tarian ganggang, kepakan sayap unggas, kesabaran sampan yang terikat di pinggir telaga. Aku masih ingat bagaimana rasanya tidak membutuhkan kebahagiaan untuk memejamkan mata. Mengijinkan angin mengusap alis, mengecup kening dan kelopak mata, mengacak rambut, mengikuti gerak tanganmu. Apakah ada bedanya, penantian yang telah kukenal sangat dekat dengan yang kutemui baru saja menepi sambil saling pandang dengan keengganan menanyakan tempat dan tujuan. Beribu ribu lorong di dalam kepalaku berujung satu. Debu debu tertegun sebelum meleleh, mengikuti cara angin mengikuti gerak tanganmu, mengusap alis, mengecup kening dan kelopak mata, mengacak rambut. Ini kota, menelan kehilangan dan ingatan, memuntahkannya kembali, segera. Udara menarik debu debu ke dalam pelukan erat. Dan senja berdiri tegak, memandangi semua yang berdiri dan berjalan mendekat selepas siang melambaikan tangan*