Rabu, 31 Oktober 2012

kota yang hilang

Sebuah kota yang bahagia.
Hanya ada satu makam di sana, dengan nisan terbuat dari kayu, kokoh, padat, berkilat, tanpa coretan atau pahatan.
Semua jasad penduduk kota dikuburkan di dalam satu liang lahat. Hingga yang mati tak pernah kesepian. Dalam satu satunya liang lahat di kota yang bahagia, mereka yang mati bisa mengulang kembali semua percakapan yang belum selesai. Kematian semeriah kehidupan.
Sebuah makam yang bahagia.
Seluruh penduduk kota berziarah di sana. Setiap hari, bersama sama atau bergantian penduduk kota menaburkan bunga dan doa doa ke satu malam bernisan kayu yang kokoh dan utuh. Para pejabat dan pemberontak, bangsawan dan rakyat jelata, tuan dan hamba saling berjumpa saat berziarah, berdiri berdekatan di depan nisan sambil mengenang kehidupan orang orang yang terkubur di satu liang lahat.
Liang lahat yang sangat kerap digali dan ditimbun, paling banyak ditaburi bunga.
Kabar tentang kota dan makam yang bahagia entah bagaimana akhirnya tersebar luas. Orang orang berdatangan dari luar kota. Kota semakin ramai dan megah, makam semakin semarak.
Mereka yang sebatang kara kebanyakan bercita cita hijrah ke kaota yang bahagia menjelang ajalnya. Sayang sekali kota yang bahagia tidak bernama dan tidak bisa ditemukan di peta*

*

Ingin kubekukan waktu saat bersamamu.
Saat segenap keindahan mengepung nafasku.
Serupa salju menyelimuti bunga bunga bermekaran*

good night

Kubayangkan sedang menulisi langit malam. Mungkin cuma mencoret coret atau menggambar. Memunculkan yang mirip bintang bintang atau rembulan. Karena cuma dua benda itu yang kutemui pada langit hitam malam, dengan bentuk tak beraturan dan warna warna yang tidak sama setiap malam. Bentuk dan warna yang tidak tertelan pekatnya hitam.
Apa yang kau dan aku pikirkan ketika menatap langit malam. Aku bukan pembaca pikiran, tak tahu apa yang kau pikirkan jika tidak kau katakan. Aku lebih sering tidak memikirkan apa apa. Hanya menatap, lama, dan masih tidak memikirkan apa apa.
Mereka berkata pikiran kitalah yang membentuk keadaan. Kalau tanpa pikiran, apakah yang akan kubentuk. Kalau secara wajar jawabnya bukan apa apa. Tidak merisaukan apa apa. Hanya terus menatap langit hitam. Tidak memperkirakan nasib, tidak juga meramal cuaca.
Aku juga tak tahu, apakah langit hitam malam lebih bahagia dipandang apa adanya.
Bintang bintang berpijar, rembulan membesar, langit menghitam. Mereka bernama malam. Tempatku menatap dunia, apa adanya. Noda noda di wajah, tubuh dan pakaian memudar.
Malam juga menidurkan raga. Setiap yang sedang terlelap tampak lebih cantik dan tegap*

Senin, 29 Oktober 2012

di pasar jam sebelas siang

"Adakah yang tidak sempurna ?" Tanya seorang kekasih kepada kekasihnya.

Empat anak berbaju dekil berteriak, tertawa, saling mengejar.
Tukang parkir menghitung recehan di genggam tangannya.
Bapak bapak memilih nasib pada sebutir batu akik.
Seorang pelacur baru bangun tidur.

"Adakah yang tidak sempurna ?" Seorang kekasih bertanya kepada kakasihnya.

Bangkai ikan bertumpuk dalam keranjang bambu.
Kangkung yang layu.
Mentimun keriput.
Induk kucing memandikan kedua anaknya.

"Adakah yang tidak sempurna ?" Kekasihnya bertanya lagi, mengira kekasihnya tak mendengar pertanyaan yang telah diulanginya dua kali sebelum ini.
Di tengah kegaduhan, dihimpit kegerahan, matahari terlihat sangat bahagia. Kekasih belum menjawab pertanyaan kekasihnya. Udara pengap menyumbat mulut, asap, rambut kusut, peluh, dan anak anak yang berlarian.

"Adakah yang tidak sempurna ?"
"Kenapa kau bertanya ?"
"Karena kita sedang meniti jalan ke surga."


kotbah

Aku menulis tiga kali sehari, atau lebih. Sebagai pengganti makan nasi. Jantung yang lapar membuatku lebih merana ketimbang lambung yang kesepian. Lagipula ada yang mengkhawatirkan masalah kepadatan penduduk dan ketersediaan bahan pangan. Mereka takut anak anaknya kelak tidak cukup makan karena harus matian matian bersaing mendapatkan beras hanya untuk hidup. Entah hidup macam apa yang bisa diharapkan dari manusia manusia yang resah demi isi perutnya.
Karena aku selalu cukup makan dan masih saja jantungku kelaparan debar. Maka aku gemar merendahkan manusia manusia yang tunduk pada rasa kenyang. Setidaknya aku senang membuktikan pada diriku sendiri bahwa puisi setengah jadi bisa jadi pengganti nasi. Maka masalah kepadatan penduduk dan kekurangan pangan menjadi urusan tidak penting sama sekali.
Seperti kata seorang nabi yang kucintai, manusia tidak hanya hidup dari roti, melainkan kalimat kalimat yang tak perlu dimengerti. Kata kata nabi itupun telah kukutip seenaknya sendiri. Tidak penting, asalkan aku selalu merasa sanggup hidup di jaman edan.
Jaman edan itupun istilah basi. Seperti hal lain yang basi kerap memenuhi bumi. Bumi uzur yang dihuni mahluk mahluk taklukan umur. Kalaupun harus menjadi budak, kurasa lebih nyaman menjadi budak penguasa kepala daripada penguasa perut.
Jadilah aku seperti kehendakku, narsis, penyendiri, pemuja sunyi, dan lain lain yang menurutku sama sekali tak ada hubungannya dengan kenyataan. Tak akan kubuang buang waktu dengan berharap suatu hari akan menyadarkan diriku sendiri, apalagi mahluk lain. Sudah banyak sekali yang bisa peduli, berpikir dan merancang rencana hebat yang katanya untuk 'perbaikan'.
Istilah anjing menggonggong kafilah berlalu memang berlaku, maksudnya televisi berkoar koar manusia berlalu lalang. 
Betapapun seorang guru membutuhkan orang orang dungu. Kabar baik membutuhkan nasib buruk. Pemberi semangat membutuhkan keputus asaan. Penunjuk jalan membutuhkan orang orang sesat. Perancang membutuhkan keruntuhan. Dan para pelayat yang membutuhkan mayat, bukan sebaliknya*

Minggu, 28 Oktober 2012

kiss

Bicara cinta bisa jadi menjemukan.
Bagaimanapun yang menjemukan itu jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada menyamarkan pembicaraan tentang cinta dengan kata kata penuh metafora.
Kenapa harus selalu mempersulit diri sendiri, mencoba membicarakan cinta dengan cara santun dan anggun, berharap cinta menjadi lebih bermakna dengan kalimat kalimat indah dan macam macam kiasan yang luar biasa.
Apakah cinta begitu angkuh atau malu malu. Tak rela terbaca apa adanya. Tak mau diketahui bahwa cinta hanya penuh cinta yang tetap begitu begitu sepanjang waktu.
Suatu ketika, entah kapan, selalu, saat bersamamu, aku ingin cinta menjadi jemu dengan segala topeng atau tirai yang membuatnya terkesan agung sekaligus misterius.
Apakah kucingku sedang bicara cinta dengan satu bunyi yang sama, ngeong, ngeong, ngeong, ketika berhadapan dengan lawan jenisnya. Atau kucing tak kenal cinta. Mungkin kucing betina menjilati pantat anaknya cuma berdasarkan naluri semata, tak ada kaitannya sama sekali dengan cinta.
Tidak semestinya menghubungkan cintaku dengan cinta kucing.
To the point saja, aku bicara cinta malam ini. Tanpa membawa bawa bulan dan bintang bintang, tanpa campur tangan angin dan ranting. Tanpa apa apa. Cuma cinta.
Aku ingin kau melotot kepadaku, menatapku dengan pandangan jenaka sekaligus menghina, lalu berbisik tajam,"sssttt, jangan bicara."  Kalau kurasa kurang, aku akan terus bicara cinta sampai kau muak, benar benar tak tahan, hingga mendiamkan bibirku dengan bibirmu, mengunci lidahku dengan lidahmu.
Jangan kaulepas, atau aku akan bicara cinta lagi*

menemukan kehilangan

Boneka beruang kehilangan masa kanak kanaknya di toko mainan.
Boneka prajurit kehilangan perang di tangan seorang anak laki laki laki yang kehilangan teman.
Boneka barbie kehilangan pentas di pangkuan seorang anak perempuan yang tertidur sendirian.
Anak laki laki dan anak perempuan kehilangan rumah pada sebuah istana di toko mainan*