Berapakah harga senyummu?
Kenapa kauberikan cuma cuma untukku, padahal aku rela menukar seisi dunia hanya untuk satu senyumanmu. Dan surga untuk sepasang matamu yang berbinar, seandainya aku punya...
Tapi, telah kauberikan cuma cuma, seluruh duniamu menjadi surgaku*
Rabu, 26 September 2012
*2*
Maukah kau segelas kopi. Malam lengang. Melapangkan kenang. Aku menjelma belalang, berdiam dan melompat dari ranting ke ranting tanpa tujuan. Itu sebabnya kau mengataiku tanpa harapan. Kau benar, tanpa harapan juga menyenangkan. Ketika kutanyakan, maukah kau segelas kopi, bukan kepada diriku sendiri atau seseorang yang ada di sini.
Apakah ada yang tidak beres, akal mulai menyebalkan, mau tahu yang bukan urusannya. Tak akan kutawarkan segelas kopi kepadanya meskipun cuma untuk basa basi.
Suara tawamu berada jauh di dalam kepalaku, begitu dalamnya hingga tak terdengar. Baguslah, aku tak ingin diganggu oleh siapapun yang selalu ingin tahu. Mencari bukti bahwa tak akan pernah ada segelas kopi yang kutawarkan padamu. Yang semacam akal memang tak pandai beramah tamah kepada segala jenis serangga.
Maukah kau segelas kopi, menjelang pagi*
Apakah ada yang tidak beres, akal mulai menyebalkan, mau tahu yang bukan urusannya. Tak akan kutawarkan segelas kopi kepadanya meskipun cuma untuk basa basi.
Suara tawamu berada jauh di dalam kepalaku, begitu dalamnya hingga tak terdengar. Baguslah, aku tak ingin diganggu oleh siapapun yang selalu ingin tahu. Mencari bukti bahwa tak akan pernah ada segelas kopi yang kutawarkan padamu. Yang semacam akal memang tak pandai beramah tamah kepada segala jenis serangga.
Maukah kau segelas kopi, menjelang pagi*
selamat pagi di malam hari
Aku ingin membeli buku gambar, seorang anak berkata pada jaman batu, kepada mahluk mahluk berbulu. Lalu kudengar sehelai daun jatuh. Lalu angin menabrak bingkai jendela. Anak menggambar wajah emak. Ada yang mengintip di balik semak, sepertinya masa depan yang tersesat. Anak menggambar bola, yang meronta ketika ditendang ke arah jala. Manusia bersorak, berpelukan. Bimbang tentang kemerdekaan atau kemarahan. Semuanya hambar.
Anak menggambar pagar. Kawat berduri, burung pipit sepasang berkejaran, saling mematuk leher dengan gembira. Tak ada tawanan lagi hari ini. Buku gambar telah penuh wajah, semuanya tertawa. Kucing, anjing dan kera menggerakkan ekornya. Selamat dari sekapan mimpi yang terlalu indah.
Anak bertepuk tangan sambil melompat lompat, buku gambarnya menikam surat kabar. Pada sebuah pagi yang lelah bermimpi. Surat kabar mati*
Anak menggambar pagar. Kawat berduri, burung pipit sepasang berkejaran, saling mematuk leher dengan gembira. Tak ada tawanan lagi hari ini. Buku gambar telah penuh wajah, semuanya tertawa. Kucing, anjing dan kera menggerakkan ekornya. Selamat dari sekapan mimpi yang terlalu indah.
Anak bertepuk tangan sambil melompat lompat, buku gambarnya menikam surat kabar. Pada sebuah pagi yang lelah bermimpi. Surat kabar mati*
Selasa, 25 September 2012
love u
Mencintaimu, ingin kutuliskan selalu. Dua hal yang membuatku merasa menjadi sesuatu. Menulis dan mencintaimu. Gabungan keduanya menghidupkan. Aku tak peduli apakah akan mengganggumu, menyenangkan atau menyebalkan bagimu, bahkan jika kau tak tahu atau tak peduli. Aku terus di sini mencintaimu, menuliskan cintaku padamu.
Aku bilang, so sweet... untuk diriku sendiri, karena mencintaimu, menuliskannya selalu. Biar norak, biar kampungan, biar memuakkan.
Mencintaimu adalah udara, debu, sarang laba laba, helaan nafas, kerutan kening, decak lidah, gatal gatal di kepala, angin, bisa kapan saja, di mana saja. Biasa atau luar biasa. Kematian adalah setelah kehidupan. Mencintaimu adalah aku, sebelum dan sesudah segalanya.
Lupakanlah seperti kaulupakan udara, sarang laba laba, helaan nafas, decak lidah, gatal gatal di kepala, angin, selalu. Lupakanlah, akan kucintai kau lebih*
Aku bilang, so sweet... untuk diriku sendiri, karena mencintaimu, menuliskannya selalu. Biar norak, biar kampungan, biar memuakkan.
Mencintaimu adalah udara, debu, sarang laba laba, helaan nafas, kerutan kening, decak lidah, gatal gatal di kepala, angin, bisa kapan saja, di mana saja. Biasa atau luar biasa. Kematian adalah setelah kehidupan. Mencintaimu adalah aku, sebelum dan sesudah segalanya.
Lupakanlah seperti kaulupakan udara, sarang laba laba, helaan nafas, decak lidah, gatal gatal di kepala, angin, selalu. Lupakanlah, akan kucintai kau lebih*
Senin, 24 September 2012
song of joy
Kau satu satunya yang kukenal, paham cara menjadi penghuni dunia tanpa menjadi gila.
Kau mengajariku, tidak bukan mengajari, kau melakukan apa saja yang sangat kusuka, apa saja yang bikin aku sangat ingin belajar melakukannya. Mengenali diriku sendiri. Tidak terlalu sulit, tidak pula mudah, tidak pasti. Tidak sulit, tapi rumit.
Dulu, sebelum mengenalmu, aku merasa selalu berada di satu sisi, satu ruang, satu jalan. Ada sisi lain, ruang lain, jalan lain yang bukan aku sama sekali. Setelah bersamamu, aku percaya kanan atau kiri, depan atau belakang, terang atau gelap, semuanya bukan dua. Tak kutemukan istilah lebih tepat selain two in one. Seperti kau dan aku. Menyenangkan dan menyedihkan. Benar dan salah. Tuhan dan hantu. Kalau kubilang putih dan hitam, maksudnya bukan belang macam badan kuda zebra.
Aku jadi tahu tak ada benarnya aku kalau tak ada kesalahanku. Sebaliknya, tak ada salahnya tanpa kebenaran ikut serta. Lalu aku menjadi jahat supaya baik, dengan menyesal dan minta maaf. Menjadi baik untuk kejahatan, dengan merasa bersalah dan mensyukuri berkah.
Aku berdiam, berjalan, tahu pasti akan tiba di suatu tempat bukan di manapun.
Tidak sendirian, ketiadaanmu menjadi sahabat karibku, mengajak kesunyianku bicara, kemurunganku bercanda, meredakan gairah, menyulut harapan.
Pada saat terjaga dari mimpi yang tak kumengerti kudapati lenganmu menjagaku dari terkaman malam yang bukan malam, membimbingku menuju pagi yang belum jadi.
Apakah kesedihan adalah sebuah nama, teman lama yang seharusnya dikenang dengan rasa sayang.
Ya, aku sangat menyanyangi warna hitam, bikin matamu berpendar. Warna langit malam ketika kita naik komidi putar. Angin kencang meniup rambutku tak memadamkan satupun lampu, warna warni berserakan di seluruh dunia*
Kau mengajariku, tidak bukan mengajari, kau melakukan apa saja yang sangat kusuka, apa saja yang bikin aku sangat ingin belajar melakukannya. Mengenali diriku sendiri. Tidak terlalu sulit, tidak pula mudah, tidak pasti. Tidak sulit, tapi rumit.
Dulu, sebelum mengenalmu, aku merasa selalu berada di satu sisi, satu ruang, satu jalan. Ada sisi lain, ruang lain, jalan lain yang bukan aku sama sekali. Setelah bersamamu, aku percaya kanan atau kiri, depan atau belakang, terang atau gelap, semuanya bukan dua. Tak kutemukan istilah lebih tepat selain two in one. Seperti kau dan aku. Menyenangkan dan menyedihkan. Benar dan salah. Tuhan dan hantu. Kalau kubilang putih dan hitam, maksudnya bukan belang macam badan kuda zebra.
Aku jadi tahu tak ada benarnya aku kalau tak ada kesalahanku. Sebaliknya, tak ada salahnya tanpa kebenaran ikut serta. Lalu aku menjadi jahat supaya baik, dengan menyesal dan minta maaf. Menjadi baik untuk kejahatan, dengan merasa bersalah dan mensyukuri berkah.
Aku berdiam, berjalan, tahu pasti akan tiba di suatu tempat bukan di manapun.
Tidak sendirian, ketiadaanmu menjadi sahabat karibku, mengajak kesunyianku bicara, kemurunganku bercanda, meredakan gairah, menyulut harapan.
Pada saat terjaga dari mimpi yang tak kumengerti kudapati lenganmu menjagaku dari terkaman malam yang bukan malam, membimbingku menuju pagi yang belum jadi.
Apakah kesedihan adalah sebuah nama, teman lama yang seharusnya dikenang dengan rasa sayang.
Ya, aku sangat menyanyangi warna hitam, bikin matamu berpendar. Warna langit malam ketika kita naik komidi putar. Angin kencang meniup rambutku tak memadamkan satupun lampu, warna warni berserakan di seluruh dunia*
dini hari
Aku tak pernah mengerti apakah pagi dibutakan atau membutakan diri. Dari dengung televisi, gemericik air, deruan di jalanan. Hanya desah nafasmu memenuhi udaraku. Mengantar telapak tanganku ke wajah pagi. Kuusap pipinya, halus dan hangat. Kurapatkan ia ke dada, kuhirup yang keluar dari celah bibirnya. Kucing putih hitam ekornya tak berhenti bergerak, menerkam benang warna warni perajut mimpi.
Sejuk sekali, kubisikkan kepada matanya yang masih rapat terpejam*
Sejuk sekali, kubisikkan kepada matanya yang masih rapat terpejam*
Kamis, 20 September 2012
coklat
Sudah larut.
Selalu malam terlalu larut.
Hanyut ke arahmu. Lalu aku menunggu kauceritakan kembali tokoh tokoh negeri mimpi. Mereka sangat mahir merajut benang benang kusut di lantai, tanah, pasir, juga permukaan air. Menyelamatkan kaki kaki dari jerat yang tak mengikat, cuma mengingat.
Pekat, kau melekat di pintu nafas*
Selalu malam terlalu larut.
Hanyut ke arahmu. Lalu aku menunggu kauceritakan kembali tokoh tokoh negeri mimpi. Mereka sangat mahir merajut benang benang kusut di lantai, tanah, pasir, juga permukaan air. Menyelamatkan kaki kaki dari jerat yang tak mengikat, cuma mengingat.
Pekat, kau melekat di pintu nafas*
Langganan:
Postingan (Atom)