Senin, 22 Juni 2015

untukku dan anakku

Jadilah keheningan, setiap malam, jadilah keheningan. Supaya kau selalu datang, duduk dekat, kulihat kau hangat. Aku diam, kau dekap. Maka aku lupa pada segala yang kuabaikan. Menjadi tepat dan cermat, betapa, ah betapa apa…
Tidak apa apa. Segalanya akan baik baik saja. Karena telah kulupakan cara kerja semua orang, juga barang barang. Keheningan lebih luas dari rentang sayap malaikat, dan keheningan tidak mencatat.
Seperti sebuah gambar yang telah selesai kaubuat. Keheningan melekat di dinding, tidak menghitung waktu, mengacuhkan setiap pengamat. Dan tidak menjawab, saat satu persatu suara mulai bertanya, apakah itu nyata, siapa pembuatnya, kapan, di mana, mungkin ribuan tanya lainnya.
Keheningan masih mendekap hangat, meskipun pecah, asalkan aku masih duduk diam diam, seperti malam, mengabaikan datangnya fajar hingga siang berlalu. Diam seperti sebuah gambar yang telah selesai kaubuat.
Pada selembar kertas, seekor anak kucing, cantik dan lucu, berbulu lebat, bermata bulat, duduk di rerumputan. Kiara, terbaca pada bagian kanan atas kertas* 

Jumat, 19 Juni 2015

uno

Dia mengatakannya dengan wajah cerah dan mata bersinar sambil mengocok dan membagikan setumpuk kartu untuk yang ke sekian kali. “Tiga rahasia, mau menang atau kalah, gampang.”
“Pertama, dengarkan lubuk hati.
Kedua, percaya diri.
Ketiga, tentukan takdirmu sendiri.
Kalau semua syarat terpenuhi mama bisa milih sesuka hati, mau menang atau kalah pasti terjadi.”

Mamanya sangat takjub, dengan hati hati bertanya kepadanya yang kemarin baru berumur sepuluh tahun,”Siapa yang ngajarin?”
“Ga ada. Aku sendiri.” Bocah lelaki tersenyum, mamanya tertawa.
“Mama ga percaya?”

“Percaya…” Mamanya menyerah masih setengah tertawa.

“Aku pasti menang sekarang.” Dia membagikan kartu dengan semangat dan keyakinan. Kira kira lima menit kemudian, dia kalah. Mamanya lagi lagi tertawa.
“Pasti ada satu syarat tidak terpenuhi,” Dia berkata dengan penuh percaya diri.

“Oh…” Mamanya hanya bisa mengatakan ‘oh’ saja, sambil memandangi anaknya mengocok setumpuk kartu dengan sungguh sungguh. Kartunya nampak kebanyakan untuk kedua telapak tangannya. Sesaat kemudian dia mulai membagikan kartu, menatap mamanya dengan mata bersinar, tiba tiba dia bertanya,”Mama mau aku menang atau kalah?” Suaranya riang, yakin dan tanpa beban, seperti denting lonceng angin saat tersentuh kepala seseorang yang melewati pintu kamar*

Minggu, 14 Juni 2015

Di Taman Hati,

Dia menulis untuk seseorang, yang mau membaca dengan baik. Seseorang yang membaca dengan baik dapat membaca banyak kisah dalam sebuah cerita. Suatu hari kelak dia hendak mendengar seseorang menceritakan sebagian dari banyak kisah yang terbaca dari satu cerita. Agar dia menuliskan kembali untuk seseorang yang mau membaca dengan baik beberapa cerita yang dapat ditulisnya setelah seseorang menceritakan banyak kisah yang didapat dari membaca dengan baik sebuah cerita.
Sesorang yang menulis untuk dia yang mau membaca dengan baik tidak membutuhkan yang lain saat menulis atau membaca, selain kata kata sederhana untuk menyusun sebuah kalimat sederhana untuk mengakhiri cerita. Sayangnya, seseorang yang menulis dan dia yang membaca dengan baik tak sampai hati untuk menghentikan kisah kisahnya. Seperti seorang ibu tak sampai hati merenggut kenyamanan dari anak anaknya, seperti seorang nenek tak jenuh jenuh memenuhi keinginan cucunya.
Ibu atau nenek itu terus mendongeng, seolah tak kenal lelah. Ibu atau nenek sebenarnya sedang kehilangan kendali, tak mampu membendung hasrat kerinduannya sendiri. Kenangan manis, kasih sayang, harapan indah, mengalir deras, dari jantung ke sekujur tubuh. Kasat mata tapi nyata, serupa udara memenuhi ruang sekaligus ada di mana mana. Menyelubungi mata anak anak yang menatap penuh minat sambil menggenggam bola dunia. Cerita cerita ibu atau nenek membesarkan mata dan hati anak anak. Dunia menjadi si kecil, lugu, manja, periang dan bersemangat di mata hati semesta ketika membelalak selebar mata anak anak saat dibacakan cerita. Dunia si kecil, hanya dihuni oleh dua orang yang saling menyayangi, seorang anak yang mengenang ibunya dan seorang ibu yang teringat anaknya*


Satu satunya kata ‘shawm’ dalam Al Quran berkaitan dengan kisah seorang perempuan suci yang melahirkan Nabi Isa AS - Maryam. (Jalaluddin Rakhmat; Kompas, Desember 1998)

Kamis, 04 Juni 2015

iradah

Ketika sebongkah batu tak berdaya di tangan seorang manusia, dia menjadi senjata, perhiasan, atau hasil karya seni. Sekelompok batu tak berdaya bersama sama menjadi bagian dari sebuah bangunan, mungkin istana, penjara, atau tempat ibadah, menjadi pondasi, dinding atau pilar penyangga. Ketidakberdayaan menjadikan batu batu berguna, indah, dan lebih berharga.
Kebebasan dan kemerdekaan bagi batu batu semacam berserakan, kemungkinan terinjak, menjadi sandungan atau penghalang.

Bagaimana dengan manusia, yang konon berasal dan kembali daripada debu. Debu bisa jadi serpihan batu, atau serpihan batu serupa debu*

Senin, 20 April 2015

ikhtiar

Hanya seorang lelaki tua peminta minta mengetahui rahasia menjadi kaya tanpa harus bersusah payah. Bagaimana ia dapat percaya masih banyak kemudahan dan kemurahan di atas bumi. Hanya dengan mengulurkan tangan, memasang wajah memelas, menggumamkan beberapa kata tak jelas, ia dapat menyalakan hasrat manusia untuk berbagi harta.
Hartamu berada di mana hatimu berada, kuingat kau pernah berkata. Hanya pengemis tak ragu menitipkan hatinya pada sembarang manusia. Meskipun aku pernah menggelengkan kepala, menolak saat ia butuh kukembalikan sebagian hartanya. Pengemis berlalu begitu saja, bejalan ke arah manusia lain, mengulurkan tangan sekali dan berkali kali tanpa lelah.
Mungkin karena aku manusia setengah manusia. Setengahnya entah apa. Perempuan dekil itu menatapku tajam saat kuperhatikan caranya memunguti sisa sisa dari tempat sampah. Demi apa atau siapa, ia rela menjadi hina. Bau busuk tak menusuk, malah menunduk di hadapan niatnya mengubah sampah menjadi harta.
Masih kugenggam hatiku. Betapa mujurnya, hatiku utuh, tak kuberikan sedikitpun pada pengemis tadi. Jika kuberikan hatiku pada pemulung, mungkin ia dapat menjadikan hatiku seharga permata. Tangan pemulung akan memperlakukan hatiku bagai batu batu mulia. Tentu mudah, tak sulit sama sekali bagi seorang pemulung yang telah terbiasa menyayangi sampah*

Minggu, 19 April 2015

kincir angin

Cintaku sangat malu saat ketahuan mencuri hatimu. Kau tak marah, hanya berkata,”Sayang aku cuma punya satu hati.”
“Maaf. Aku tak tahu diri, cuma satu malah kucuri.”
“Aku juga minta maaf, merepotkan.”
“Tidak, kau menyenangkan. Kau sangat baik, tak marah, tak menghukum, padahal kucuri hatimu yang cuma satu.”
“Hmm, justru itu. Karena cuma satu, kembalikan padaku.”
“Nanti pasti kukembalikan, dan tak akan kucuri lagi.”
“Kembalikan sekarang, nanti mesti kaucuri lagi.”
“Oh…yayaya…aku mengerti.”
Begitulah, maka cintaku tak tahu malu lagi, mencuri hatimu yang cuma satu berkali kali. Kau selalu sama, menyenangkan, sangat baik, tak marah, tak menghukum. Hanya sedikit merepotkan, kadang kadang, tidak sering. Setelah sempat terpikir, akhirnya kutanyakan,”Kenapa bukan kau yang mencuri hatiku seperti kucuri hatimu. Kadang kadang aku ingin tahu, bagaimana rasanya kehilangan hati.”
“Hmm, aku ceroboh dan pelupa, pemalas dan tak suka mengerjakan yang sama berulang ulang. Kalau kucuri hatimu tak akan kukembalikan lagi.”
“Tak apa. Kalau tak kaukembalikan hatiku, tak akan kukembalikan hatimu. Kita bisa bertukar hati.”
“Dengan apa akan kaucuri hatiku kalau hatimu sudah kucuri? Kita cuma punya satu hati, satu hati yang hanya dapat dicuri dengan hati. Tak mungkin bertukar hati. Salah satu dari kita harus rela jadi pencuri, sementara lainnya ikhlas kehilangan hati, percaya pencurinya pasti mengerti, hatinya akan kembali.”
“Ah…kau benar. Aku bodoh sekali.”
“Kau mau mencuri dan mengembalikan berkali kali.”
“Kau mau percaya pada pencuri berkali kali.”
“Ada berjuta juta kebodohan pada satu hati.”   
Oh…cintaku cintaku, siapakah kau, siapakah aku, yang ini hatiku atau hatimu. Maaf aku tertidur sebentar dan tak ingat yang mana yang benar, ini hatimu atau hatiku. Ah, tak apa kalau tertukar sesekali, nanti tohk kucuri lagi*

repeat

Begitulah. Semua ilusi. Seperti pagi atau malam, seolah olah semua manusia berangkat bekerja atau terbuai mimpi. Padahal para penganggur berkeliaran, tersebar, berdiri, berjalan, duduk atau tidur tiduran sepanjang hari. Dan mimpi tak punya kehendak dan tak ada kemampuan membuai manusia, sebaliknya manusialah yang membuai mimpi mimpinya, Dengan dalih mimpi adalah kunci, persis penggalan syair lagu. Kunci apa, apa guna kunci jika tak tahu apa yang ingin dibuka atau ditutup. Hati. Ah, itu terlalu imajinatif. Lihat saja bapak itu, usianya telah begitu uzur, sulit menerima kanyataan ada manusia menghabiskan berpuluh puluh tahun hidup hanya dengan mengulurkan tangan minta sedekah. Ibu itu, tak jauh beda, sehari dua kali, pagi dan sore, mengacak tempat sampah, memulung kerdus bekas dan gelas plastik bekas kemasan air mineral.
Jadi sebaiknya merasakan apa, kesia siaan atau kekaguman. Tidak tepat. Semua ilusi, hanya ilusi, cuma ilusi. Sudah tertulis di kitabnya, sia sia segalanya, seperti menjaring angin.
Yang hujan turun lagi. Lagu itu lagi. Tak apa hanya ilusi.
Tepat sekali ilustrasi yang digambarkan sebagai ide dan gagasan  yang keluar dari dalam kepala manusia, sebuah gelembung berisi lampu pijar, menyala, melayang dekat kepala. Seandainya bisa dipadamkan dengan menekan sebuah tombol. Apa gunanya kunci. Tidak penting. Asal lampu pijar dalam gelembung melayang dapat dipadamkan. Pecahkan dulu gelembungnya, lampunya akan jatuh ke lantai, lantas pecah. Jadi gelap. Gelap, tak ada lagi ide, tak ada gagasan. Semoga segalanya kembali seperti semula. Ya, gelembung berisi lampu pijar yang melayang layang dekat kepala menimbulkan kecemasan. Pecah dan padam. Setelah tiada ternyata hanya tiada, seperti segala yang pernah ada, akhirnya tiada.
Sehangat pelukan, tiada jarak, tiada keraguan, tiada keterikatan sekaligus tiada kebebasan. Bahkan tak saling pandang. Terbenam. Senja selalu menawan. Dunia berputar. Terbenamnya matahari juga ilusi, bahkan langit tak peduli, rona cantiknya benar benar nyata. Senja afalah kebahagiaan atau kesedihan yang terbenam, jika matahari adalah mata hati yang sinarnya sedang teralingi, bumi berputar dan bergerak melingkar, air matanya sungguh sungguh basah.
Yang hujan turun lagi. Lagu itu lagi*