Begitulah.
Semua ilusi. Seperti pagi atau malam, seolah olah mengabarkan semua manusia
berangkat bekerja atau terbuai mimpi*
Sabtu, 18 April 2015
Jumat, 17 April 2015
cuci mata
Ketelanjangan
selalu suci, maka tubuh mesti ditutupi. Dunia dan mata manusia tak tahan
berhadapan dengan kesucian.
Aku pernah
menyangka, memiliki kesanggupan mencintai sesama manusia tanpa hasrat bercinta.
Seperti biasa, sangkaanku seringkali salah, entah kau, hanya kau yang tahu dan kau
boleh mengatakan padaku atau menyimpannya untuk dirimu. Yang kutahu, sangkaanku
salah. Aku tak pernah sanggup mencintai tubuh tubuh tak bagus, tulang bengkok,
terlampau gemuk atau kurus, kulit kusam dan keriput, mata lamur, bibir perot, rambut
rapuh, tangan dan kaki gemetar tak terkendali. Jangankan mencintai, memandang
sekilas saja membuatku muak. Manusia manusia buruk yang tak mampu membangkitkan
hasrat atau sekedar khayalanku bercinta, tak pernah dapat kucintai mereka, pedulipun
tidak, malahan ingin kumusnahkan mereka.
Maka kata
kata manisku pahit semua. Hinalah aku supaya aku berhak menuduhmu ngawur. Setelah
kita saling menghancurkan imajinasi, akan kucoba sekali lagi mencintaimu. Untuk
sedikit lebih membenarkan sangkaanku. Jika dapat kucintai sesama manusia tanpa
nafsu, mungkin akan kumengerti kau sepersekian bagian, aku ragu berapa bagian kira
kira tepatnya, dan bosan berprasangka yang kemudian ternyata lagi lagi terbukti
salah.
Hanya kau
yang bisa mencintai setiap manusia. Aku merasa terlalu bebal, tak bakal bisa
belajar. Maka kualihkan perhatian dengan menulis surat atau sajak. Menghisap sigaret,
menikmati kopi, kadang kadang menenggak arak. Tentu saja kau tahu, semua
kukerjakan untuk berbagi kesalahan,
bahkan kusebut kegilaan. Dan aku bangga menjadi semacam seniman. Kebangganku bukankah
adalah sebagian dari pujian untukmu? Kau tahu aku dapat menulis tanpa jeda,
memabukkan diri dengan kata kata bermetafora. Sajak kujadikan setara dengan
arak. Malah lebih berkhasiat. Arak dalam jumlah tertentu menjadikan aku jatuh
tertidur tanpa mabuk. Sajak membuatku selalu nyalang, terang, mabuk keindahan
dengan penuh kesadaran. Aku memang bangsat, kutuliskan sambil tersenyum puas. Tentang
ini bukan sangkaan, kenyataannya aku tahu pasti, lebih nikmat mengumpat diri
sendiri daripada dimaki maki sesama manusia yang pernah kusangka dapat kucintai
setulus hati.
Sajak sajak,
terutama yang kutulis sendiri membuat sekujur tubuhku bengkak. Kepala beserta
isinya, juga dada dengan segenap organ organ yang berdenyut di dalamnya. Meskipun
bengkak, aku merasa sehat dan penuh semangat. Kemudian aku menyangka namanya
syahwat, sehat sekaligus sesat. Kecanduan arak atau nikotin sudah kutaklukkan,
sangat mudah, tanpa campur tangan ahli jiwa, hanya dengan sajak. Kecanduan sajak,
aku bahkan belum pernah menyangka akan begini parah. Belum kutemukan penawar
kepedihan.
Manusia manusia
buruk rupa begitu banyak, mengepungku, kupejamkan mata atau kutundukan kepala,
menuliskan khayalanku. Wangi tubuh dan rambut, pundak dan lengan tegap, tungkai
panjang dan lentur, jemari lentik, mata berbinar, suara hangat, senyum nakal. Apa
artinya cinta tanpa bercinta? Ada. Kalau aku bukan manusia, kucing misalnya,
akan kujilati wajahmu tanpa letih, atau kera, akan kuhabiskan hampir seluruh
hidupku untuk mencari setiap kutu di tubuhmu.
Bahkan binatang
binatang lebih paham tentang kesucian tubuhnya. Ketelanjangan tidak memalukan
karena tak berakal atau karena berahlak mulia. Aku dapat mengatakan sejuta
prasangka, benar atau salah. Tubuh manusia bagaimanapun bentuknya, adalah bait
suci, dengan tubuhnya manusia beribadah, berlutut atau bersujud dengan melipat kaki
dan melengkungkan punggung, berdoa dan berzikir dengan menggetarkan pita suara
dan bibir, memandangi sesama manusia dan menyangka dapat mencintai semuanya
dengan mata, otak dan kelenjar kelenjar penghasil hormon dalam tubuhnya. Bercinta,
menjalankan amanah mengisi dunia dengan sekujur tubuh dan organ reproduksi di
dalamnya. Ah, ternyata menulis juga dengan menggerakkan lengan, telapak dan
jari jari tangan.
Selama masih
kutemukan keajaiban dalam sajak sajak yang kutuliskan aku belum dapat beranjak.
Kelak mungkin akan kutemukan dan kukerjakan yang lebih mulia daripada berkutat
di sekitar sajak sajak. Mungkin kelak aku bisa menjahit baju atau merajut sepasang
kaos kaki. Karena dunia dan mata manusia tak akan pernah sanggup berhadapan dengan
ketelanjangan. Akal selalu dikalahkan kesucian. Segalanya akan lebih sederhana
seandainya aku tahu ada berapa lapis syahwat menyelubungi jasat.
Hanya kau
yang tahu, tentang segala prasangka yang kusangka, benar atau salah. Siapa mampu
mengusikmu, lalat, ngengat, atau bangsat, atau penjahat, atau syahwat, atau
taubat. Ular melingkar lingkar di atas pagar yang kukatakan berulang ulang dan
belum juga benar. Ada apa dengan lidahku, dia tak mau patuh pada kerinduanku,
mengatakan rindu lebih dekat kepada kesempurnaan, tidak kekanakan seperti bocah
baru belajar bicara.
Kelinci meloncat
loncat di bawah pohon. Belalang mengangguk angguk di atas daun. Lebah madu
hinggap pada sekuntum bunga. Masih dapat kupilih banyak kalimat yang dapat
kuucap lebih tepat. Kenapa masih harus menuntut dan menginginkan kebenaran mengucapkan, ular melingkar lingkar di atas pagar. Betapa ringan saat kuingat,
kau pasti tahu segala sesuatu yang aku tak tahu sedikitpun.
Akhirnya aku
tanya, manakah yang lebih buruk, mengumbar syahwat atau tidak menutupi aurat. Manakah
yang lebih tak dapat dihadapi dunia dan mata manusia, ketelanjangan tubuh atau
ketelanjangan pikiran. Kalau kaubaca ini, kusangka aku sedang menuntaskan
hasrat, sedang tersesat dalam kenikmatan yang tak sanggup kuhadapi dengan
mataku sendiri. Selamat. Ah, selamat hanya nama biskuit coklat, masih banyak
selamat lain sebelum wafat atau kiamat*
Kamis, 16 April 2015
empiris
Pematang sawah pasti lupa, betapa gerimis terburu buru jatuh, betapa usil dan licin lumpur. Setelah terpeleset, terjatuh untuk yang ke dua kali, kuingatkan diri. Semua dapat lupa atau lalai tanpa sengaja, juga pematang sawah, boleh lupa atau lalai menjadi jalan yang benar. Tak apa aku terlihat kacau, mirip kerbau, dari mata kaki sampai pinggang belepotan lumpur.
Hujan menderas.
Rupanya hujan menyesal, berniat menghapus jejak kesalahan. Aku segera
kembali bersih. Agar tak terpeleset sekali lagi, kepada pematang sawah
kukatakan,”Sekarang aku akan jalan pelan pelan.”
Untuk hujan, kerena lebat dan bersuara riuh, kuteriakkan,”Sudahlah, aku basah, tapi kau tak bersalah.” Setelah mendengarku, semoga hujan dapat meredakan
diri secepatnya*
al kautsar
Habiskan
seluruhnya, hingga ampas yang mengendap, pahit namun tuntas. Sesaat lagi penawar
rasa akan dituangkan ke dalam tempurung kelapa yang sama. Rasakan manisnya,
nantikan khasiatnya. Siapkah kau bertemu keajaiban tanaman obat*
ziarah
Tak ada
lampu dalam kamar itu. Cukup diterangi matahari saat pagi, biar dipeluk gelap
saat malam. Wajah wajah dalam selembar
kertas adalah wajah wajah yang mampu mengacuhkan kegelisahan. Kapan. Kau tersenyum menanti kilat kecil
datang. Siapa yang membidikmu. Kau dan
dia telah abadi. Ingatkah kau, naluri insani, ingin abadi. Selamat menikmati kesejukan
bening sepanjang hari. Serupa embun beku mendekap senyuman, melekat arat, tak
ada jarak, tak ada bayang bayang. Kenangan mengenal jalan pulang.
Selamat pagi
ayah, selamat menikmati serealmu. Maaf aku mengatakannya seperti biasa. Aku merasa
kau belum lupa caraku bicara. Aku masih sama, masih ingat kau mahir menanam dan
belum kutanam. Aku tersenyum menemukan
senyumku abadi bersama senyummu di atas meja. Sebelum beranjak kusapa kaca, selamat malam
penjaga senyuman*
Sabtu, 11 April 2015
just peachy
Kemarilah
sayang, jangan sibuk atau lelah. Kita harus bicara. Aku ingin mendengarmu
mengatakan semua yang tak dapat kaukatakan pada semua orang. Dunia akan baik baik saja, meskipun kita
acuhkan sebentar atau lama. Tapi aku bakal merana, bila tak ada kau dekatku,
atau didekatmu tanpa kauperhatikan sepenuh hasratmu.
Kemarilah
sayang, dekat dan lebih dekat. Akan kubisikkan sebuah rahasia yang tak akan
pernah terbuka sepanjang usia semesta. Kau tahu, telah kaudengar sejak pertama
kita berjumpa saat pandangan matamu tertuju padaku, segalanya akan berlalu, dan
kita selalu begitu tentang sesuatu. Yang lucu, yang membuatmu tertawa yang
menjadikan aku terus mengulang ulang beberapa kata.
Kenapa.
Bagaimana. Benarkah. Kita lupa. Kita bertanya tanya. Kita ada. Kita siapa. Kita
tertawa. Dan tak ada yang mencuri waktu. Kita menunggu waktu datang, atau kita
tak peduli, waktu memamerkan kesanggupannya mengubah segalanya dalam sekedip
mata, kemudian memohon kita meminta kesepakatannya tentang menikmati
ketepatannya.
Kemarilah
sayang. Kueratkan genggam tangan. Kulekatkan lengan. Padamu. Kugumamkan, kau
tahu tanpa kuberitahu, kau sungguh tahu hanya kau yang tahu. Aku kecil dan
dungu dan lucu dan kau mau jatuh hati untukku*
Senin, 06 April 2015
mata lumpur
Musim dan
kucing, bertemu di teras rumahku, di jejak langkah berlumpur. Aku merenung,
semakin dalam, semakin buram. Hujan telah usai, dunia masih basah, serupa kanak
kanak baru beranjak dari bak mandinya, tubuh dan rambutnya harum, bersih,
sejuk, meneteskan air.
Ada yang
ingin kutanyakan, tapi belum teringat. Aku terpaku, seakan debu di sebuah sudut
yang tak tersentuh. Mendesah tanpa makna, terpikir saja olehku,”Benakku tak
berpintu.” Segala boleh datang dan pergi tanpa permisi, semua boleh mampir
sejenak atau lama. Dan aku bahkan belum mampu mengingat yang mestinya kuingat. Tak
ingat, serumit tak melupakan. Tak mampu kuingat apa yang seharusnya kulupakan.
Kucing siapa,
musim apa. Aku tak lupa, hanya tak ingat. Lumpur seakan tak terlihat. Haruskah aku
sedih atau senang tanpa sebab. Dan aku tahu ini bukan amnesia. Aku manusia, itu
saja, tersesat di teras rumah. Jendela jendela melihatku tanpa merasa iba,
mungkin hanya peasaanku saja. Kasihan. Angin tiba tiba berdesir, kudengar deru
mesin.
Seorang pengendara
motor lewat begitu saja. Menerobos kekosongan yang kukira terhampar semacam
jalan lengang di luar pagar. Betapa asing dunia. Betapa tak kukenal. Kucoba melangkah
kembali ke tempatku, gerak yang tak menciptakan jarak, diam. Serasa berjuta
jam, kelopak mataku akhirnya terkatup. Gelap. Ini baru nyata. Lumpur hitam. Mataku
terpejam, kubuat gelap. Paling tidak aku masih mengendalikan sesuatu. Bukan pintu
di benakku.
Kuraih titik
titik berkilau yang beterbangan dalam kegelapan, mestinya terburu buru,
kudengar suara, getar tubuh kucing. Semakin asing, dengkuran kucing. Bau tanah
basah. Angin tiba tiba menyerbu dekat, meruntuhkan sisa hujan dari daun daun dan
ranting di atas pohon. Suaranya seperti mengingatku sedang melupakan tempat dan
waktu. Seperti sedang mendongak ke arah sepasang mata, pandangannya bersirat
tanya,”Kau baik baik saja?”
Ya. Apakah aku
baik baik saja. Sebaiknya aku lupa. Mengapa harus sungguh sungguh melangkah. Apakah
harus ke mana. Lumpur lumpur yang lucu. Hujan
hujan, kubisikkan. Kucing mendengkur tanpa tidur. Jika bukan pintu, mungkin
jendela. Tak berpintu tak pasti selalu terbuka. Ya, melompati jendela, kududuki
tepinya. Burung kakak tua sejak lama hinggap di jendela.
Wah…dunia
rumah…jendela mata…aku mulai lelah, mulai merasa salah memilih kata*
Langganan:
Postingan (Atom)