Kamis, 03 Juli 2014

*

sayangilah aku, karena pengecut. jika aku gagah berani tentu tak sesulit ini. kesulitan yang kutempuh mestinya membuatmu tersentuh. betapa besarnya hasratku. aku cuma pengecut, sayangilah aku, pegang tanganku erat erat. kau tak pernah surut, aku takut hanyut*

istighosah

setiap hari, buku buku, segenap surat kebar dan majalah, selebaran, berserta segenap surat dan kertas kertas berserakan, tak lupa berdoa. semoga cinta itu nyata, meski hamba hanya mengenal kata*

*

benda benda tak lagi berbunyi. mereka sepakat berdiam diri setelah mengirimkan pesan dalam botol, kosong. terhirup aroma, kenangan mantan penghuninya, berarti pernah ada. setelah tak bersisa, kekosongannya malah menyalakan ingatan, kalau bukan kerinduan. lidah kepada rasa. angan kepada harapan. ia tidak tuli, tidak buta, hanya gemar mengada ada.
tidur atau anggur, jalan lurus menuju kubur.
benda benda tak pernah hidup, tak pernah membusuk.
terkutuklah kantuk. terkutuklah segala macam mabuk. ia menutup hidung, namun mulutnya masih mengendus bau kata katanya yang mencemari udara*

*

kulit ular, sayap kupu kupu, cahaya kunang kunang, sarang laba laba, rumah siput. mana yang setara cinta manusia. manusia terjaga, manusia terlena, manusia terlelap, manusia waspada, manusia merasa, manusia menduga, manusia percaya, manusia hampa. siapa berkata, binatang mempunyai sarang, tapi manusia tak punya tempat untuk meletakkan kepalanya. semua ini konyol, seorang manusia kacau sedang berebut sunyi dengan suaranya sendiri*

Selasa, 01 Juli 2014

*

kekuasaan tidakkah membosankan. lucunya yang mengatakan adalah orang yang tak punya kekuasaan apa apa selain bermain kata. itu juga bukan kekuasaan, hanya kebiasaan atau mungkin juga latihan. senangnya, pada akhirnya seseorang berhasil menjadi bosan dengan kebiasaannya, sesuatu yang telah dikuasainya, meskipun mungkin hanya itu satu satunya kebisaannya. ia bosan. hahaha. ia ingin jingkrak jingkrak setelah menyadari bermain kata akhirnya membosankan baginya. apakah itu berarti ia telah menguasainya, atau justru terbebas dari jerat kekuasaannya. ia masih bermain kata meski bosan. ia bosan bermain kata meski bisa. ya tuhan, kasihanilah ia, lebih banyak dari rasa kesihannya pada tuhan. tuhan maha kuasa, selamanya maha kuasa, jadi maha bisa, bisa tidak pernah bosan.
ia tahu, baginya sama saja dengan sok tahu, ia harus meninggalkan segalanya selagi masih nikmat. demi kenikmatan selanjutnya. seperti minum arak. seperti mendaki langkah demi langkah, atau anak tangga. tak akan ke mana mana jika tidak beranjak. mau sampai kapan menikmati menulis dan membaca, seandainyapun sangat berharga, selalu ada lebih banyak yang tak terlihat. pergilah. pergilah. pergilah. tinggalkan, atau ia akan lupa sama sekali bagaimana caranya menikmati dengan sepenuh hati.
ia ingin membujuk dirinya dengan kalimat, sebenarnya belum selesai, belum menguasai. kenapa harus berhenti, kopi selalu nikmat, juga sigaret dan bicara dengan diri sendiri. ke mana lagi hendak berlari, hendak sembunyi, mau jadi pengecut atau pengkhianat terhadap kata hati. tapi hatinya terlalu banyak berkata kata, ia tak tahu mana yang sejati dan pantas dituruti. ia pernah membaca, diberkatilah mereka yang mengalami saat saat ragu. ia butuh menikmati keraguan, jika tidak ingin terjerumus dalam kesombongan. melihatnya memandang dunia dan dirinya, siapa saja baiknya tertawa. apapun yang dikatakan, dituliskan, diragukan, diputuskan olehnya, tak akan mengubah apapun. jadi kenapa harus dirumitkan. justru itu, karena apapun juga, sama sama tidak bermakna, jadi rumit. jika ia tahu di mana ia akan menemukan makna, entah apa, tak akan rumit, ia akan berjalan lurus ke arahnya. justru karena semuanya sia sia, ia mesti merumitkan dirinya, mengisi kesia siaannya dengan sesuatu yang membuatnya merasa hidup.
lihat anak kucing itu, menatap dengan mata hitam berkilat, menggerakkan kaki depannya untuk mendapatkan perhatian. betapa lucu dan menghibur. ada beberapa menit dalam kehidupan si anakkucing yang mengirimkan ingatan atau kenangan penting untuk seseorang. anak kucing itu mestinya tak tahu apa apa tentang alam semesta*

keikhlasan

separuh muak, separuh memuja. begitu perasaanku bila kau sudi bertanya. untuk membuktikan segala yang kaupamerkan bukan cuma bayang, bukan cuma sayang. kau tahu, betapa sempit dunia dibanding hasrat manusia. jangan pakai perasaan, selalu kausarankan untuk menentukan jalan. jalan ke mana. kau tak butuh tujuan. mengikutimu aku bisa edan. jangan, katamu, aku tak berharap.
kita menikmati bulan yang sedang tak kelihatan, membakar ikan di tepi kolam. asapnya gurih, mataku perih. ada yang selalu menunggu, ada yang selalu ragu, ada yang selalu lucu, ada yang selalu pilu. haruskah minta ijin untuk terharu. pada kehidupan segar bugar atau manusia mansuia sekarat. kau melihat mereka sedang sibuk berdebat. aku mendekat, meraih pemantik di celah rumput. kau mengangguk, untuk apa, tanya yang mana. apakah aku boleh bersandar. apakah kau punya lengan untuk menopang. jantung untuk berdebar. catatan untuk dibakar. atau hanya kepalsuan yang kaubaca pada sepasang mata yang mencoba mengisyaratkan kepasrahan, karena sungguh sungguh lelah.
di sana juga ada matahari sedang bersembunyi. udara melahap semua aroma, asap gurih, asap pahit, bau rambut, kehangatan dari rongga mulut dan hidung. dia mendengar segala, suara dan senyap, menelannya bulat bulat, menjadikannya bahan bahan untuk bertahan hidup. tengah malam telah lewat, sekali lagi aku selamat. separuh tidak membunuhku, apapun itu. kau belum peduli. aku mengendalikan diri, kuda, anjing atau singa. darat atau laut. betapa mahirnya manusia menamai penghuni dunia. tiba tiba aku rindu membaca ensiklopedia, bila beruntung akan kutemukan kau di sana, memuaskan ingin tahu, menjelaskan dengan singkat segala yang ada dan nyata. sempurna dan sederhana.
separuh mesra, separuh manja. kau tempak bahagia. atau kebahagiaan sebenarnya lupa pada segala peristiwa. kau cantik saat kecewa, kau tak mengatakannya. kau menyayangi semua bayang, kerena mudah hilang dan selalu datang. berapa kali aku harus mengulang kesalahan, tak kaupermasalahkan. aku mengharapkan hujan bintang, kering dan terang. aku tak ingin kehilangan kau, satu satunya yang dapat menghapus ingatanku. aku ingin membakarmu, bersama ikan dan sigaretku. bila asapmu merasukiku, menebarkan aroma gurih dan pahit di udara, sejauh apa kau terbang. untuk apa kutanyakan*

*

kucari lagu sedih, kuajak bersuka hati. kutemukan seutas tali, kusuruh dia memilih, menggantung diri atau kulompati. kesedihan dalam lagu itu tak sabar menanti keputusan tali. aku pergi, lagu dan tali tak lagi membutuhkan motivasi*