Kamis, 04 Oktober 2012

a moment

Apalagi yang bisa hilang darinya. Kalau itu masa lalu yang tak pernah dikenang, tak bisa hilang.
Mengenang awal menghilang, atau hilang kemudian dikenang. Memangnya harus memikirkan segala tetek bengek itu. Istilah masa lalu. Bangku kayu terlihat semakin tua semakin tampan. Pahatan cuaca pada sandarannya seolah menunggu seseorang. Untuk diberitahu tentang masa lalu yang pernah duduk di situ.
Seorang kekasih yang gemar datang, saling menunggu. Ketika bertemu merapatkan pundak dan lengan, pura pura enggan dengan pelukan. Rerumputan juga tahu tak ada yang tak akan menjadi masa lalu.
Bangku kayu yang sama, setia bercerita, arah angin, gaya rambut dan busana, semua tetek bengek itu.
Masa lalu mengintip malu malu serupa bocah bocah baru menemukan seraut wajah yang membuatnya tersipu. Bangku kayu seperti memandang jauh, dedaunan jatuh, berpindah tempat, angin menggenggam hangat.
Apalagi yang bisa ditemukan. Kematian akan selalu baik baik saja, tak pernah meratapi rerumputan yang terinjak pada saat pemakaman.
Masih terbaca seperti cinta*

Rabu, 03 Oktober 2012

i n u

Aku tak mau menyesal tentang segala hal. Meskipun ada yang bilang sesal membuatku menjadi manusia seutuhnya. Yang bilang juga manusia, manusia yang sama sekali tak tahu menahu tentang kau. Mending aku bebal, tak ada sesal, bahkan kalau itu memang membuatku bisa dikutuk menjadi kadal. Pasti kadal bukan manusia, aku tak tahu apakah karena kadal tak menyesal.
Sesungguhnya aku tak tahu apapun selain kau. Tak ada sesal. Mengenalmu. Cuma kau saja. Aku bisa menggambar pelangi sendiri, teori. Faktanya aku butuh kertas dan alat alat gambar bikinan pabrik yang dijual di toko. Tentu saja jadi tak masuk akal mengatakan bisa menggambar pelangi sendiri. Ada entah berapa manusia lain ikut andil dalam sebuah gambar pelangi. Aku tak peduli. Bebal sejati.
Aku berkeras bisa menggambar pelangi sendiri. Tak ada kaitan apapun antara kau dan gambarku. Aku cuma tahu tak menyesal tentangmu, juga tentang semua manusia yang tak kupedulikan.
Dunia milik kita berdua memang pernyataan kampungan, norak. Aku bebal, masa bodoh dengan dunia. Masa bodoh dunia milik siapa.
Tapi kau...
Aku mau menyesal untukmu.
Pertama, kuakui aku menyesal tak pintar memijat kaki dan pundakmu. Setidaknya, kau pintar melakukannya untukku.
Menghilangkan sakit, penat dan bebal.
Masih ada beberapa sesal tentang kau. Bukan segenap manusia atau seluruh dunia. Tapi, kau...maka
Aku tak menyesal karena plin plan*

i m u

Seandainya manusia bersayap, ssperti yang sering kuimpikan dan kuharapkan, betapa kacaunya angkasa. Tidak juga, manusia bisa berjalan lalu lalang seenaknya tanpa saling menabrak. Angkasa kelihatannya lebih luas dari dunia. Klise sekali, ingin terbang itu klise. Aku senang ketika kukatakan ingin terbang kau tidak tertawa, tersenyum, mengejek atau apa saja. Tak sepatah kata. Jadi bisa kupikirkan yang indah indah. Emas tak ada apa apanya dibanding diammu. Kau sangat gemar bikin gemas, kalau tidak sedang diam.
Kaupikir bagaimana aku bisa melalui waktu tanpa kau berada dalam radius rengkuhanku. Tak perlu kaupikirkan, aku tak bisa, tak sudi pula.
Jadi aku mesti repot repot menyusulmu naik pesawat terbang. Hahaha...berlagak kaya. Untung sekali aku sekarang telah lupa bagaimana pendapat dan ekspresi wajahmu tentang itu. Bisa kukarang sendiri dalam benakku, berganti ganti, semuanya lebih berkilau dibanding semua emas di seluruh dunia*

i l u

Berhenti menghisap sigaret saja kau tak sanggup, apalagi melupakanku.
Aku tahu aku macam jalan buntu yang harus ditempuh, demi segala sesuatu yang mungkin menghidupkanmu. Aku juga kegalauan yang bikin kau merasa ada serta muda selamanya.
Ini memang memuakkan, pasti kutuliskan ketika aku sedang merasa mengerikan, merindukan asap menyesaki dadaku, merindukan rasa pahit di lidah, merindukan seteguk atau berapapun api melewati tenggorokanku, merindukan lumatanmu di bibirku.
Semoga saja lebih sederhana, cuma sebatang sigaret, atau berapa ribu, siapa peduli. Tapi itu cuma rindu, sedangkan aku menyayangmu. Apalah artinya rindu, aku menyayangimu*

Selasa, 02 Oktober 2012

kelabu

Matanya rapat terpejam. Muak dan mual oleh asap. Teriakan teriakan di udara,"Bunuh, bunuh, bunuh!" Ia sangat ragu, manakah yang lebih baik dan menyenangkan, mati atau hidup. Tidak sesederhana kedengarannya. Matinya adalah kehilangan dan menghilang dari segala yang hingga detik ini menjadi tumpuannya. Hidup juga bukan berarti tidak mati untuknya. Seandainya ia tidak harus memilih. Hidup dan mati bukanlah masalah bagi siapa saja.

Keadaan, juga situasi yang menjadikannya harus memilih membuatnya serba salah. Mungkin saat saat itulah seorang manusia merasa paling membutuhkan tuhan, untuk menentukan pilihan. Manusia mungkin memang hanyalah hamba, sebenar benarnya hamba, yang tak mampu sama sekali diberi mandat dan tanggung jawab. Mungkin itu pula manusia berusaha selalu mengingat kata kata takdir, nasib, dan lainnya sejenis itu, yang bisa dijadikan kambing hitam dalam semua keadaan.

Keributan di luar sana nyaris tak mengusiknya. Ia sangat kecewa kepada siapapun atau apapun yang serba mungkin. Ia merasa pengecut. Ia merasa pantas mati, tapi itupun tak pasti. Semestinya ia lebih baik dibanding kebanyakan manusia lain, tapi apalah artinya, sama sekali tak membantunya untuk tidak menggunakan kata mungkin di tiap kalimatnya, apalagfi menjadi alasan baginya untuk memilih hidup.

Ahh, makanya seseorang yang tengah menjalani hukuman mati seringkali terlihat lebih keren dan berkarakter, sebab mereka tidak memilih. Ia nyengir, setidaknya segala kekacauan ini tidaklah sia sia. Ia mendapatkan hikmahnya. Ia berharap ada orang lain yang menyadari ia belum mati, cuma pura pura mati, dan orang tersebut mau melakukan apa yang tak ingin dilakukannya, menentukan nasibnya, memilih jalannya.
Atau, jangan jangan semua orang saat ini serupa saja dengannya, tidak ingin menentukan nasibnya, tidak mampu memilih hidup dan mati bagi dirinya sendiri.

Ia merasa lebih mengerti dan maklum kenapa manusia lebih bisa menghormati jenasah. Jenasah telah menentukan atau ditentukan pilihannya, pasti, meredam kericuhan di dalam kepalanya, yang manusia tak mampu kerjakan sebelum menjadi jenasah*

Senin, 01 Oktober 2012

riddle



Kita adalah teka teki tersembunyi. Puas dengan kotak kotak tak berwarna. Serupa embun yang bersyukur kepada pucuk pucuk daun, dan cahaya yang menjadikannya tidak terlupakan. Ataukah sore itu, dengan beranda hangat dan secangkir teh keemasan dan getar getar bibir kita adalah lukisan yang hilang.

Kita bersenandung, waktu, waktu, waktu, membuat batu batu runtuh dari langit senja. Menimbun tubuh tubuh yang masih bersuara, bersusah payah menghela udara. Kita telah sekian lama membantu paru paru memompa udara.

Ban sepeda berderit derit. Pintu pintu, jembatan, palang palang, gundukan jalan menjetit jerit. Sepi diceraikan ke dalam kotak kotak, tapi tidak mati. Maka kita bernyanyi sambil bersembunyi. Tak perlu menanti wajahmu berseri.

Kita belum terisi*

buat ibu

Aku lega sekali ketika menyadari bahwa anak anakku tak tahu kalau aku tak beribu. Aku tak ingin mereka menganggap kehadiranku tidak istimewa. Sama sekali tak ingin anak anakku menyadari bahwa tanpa ibu seorang anak bisa tumbuh, macam aku, menjadi seorang ibu, melahirkan anak anak yang menakjubkan, macam anak anakku.
Aku senang mereka, anak anakku, sedikitpun tak tahu serupa apa dunia untuk seorang manusia yang tak tahu menahu tentang ibunya.
Ibu, maafkan aku tak punya waktu menemuimu, aku terlalu sibuk bermain dengan anak anakku. Dan terima kasih telah melahirkanku*.